. tentang fiksi dan cerita diri .

9 Pertanyaan Yang Musti Kamu Jawab Kalo Masih Bingung Sama Jati Diri Kamu

                                                                              src: this

“Mbak, aku galau nih”

Kegelisahan yang dilontarkan adik beberapa hari yang lalu membuyarkan lamunan saya.

Adik lagi ada di kelas 4 sekolah menengah, dan bingung untuk meneruskan pekerjaan di sebuah perusahaan multi nasional corporate walaupun dia ga seneng sama apa yang dia kerjakan VS memilih kuliah tapi juga bingung sama jurusan yang akan dia pilih. Saya yakin hal ini juga terjadi di sebagian besar lulusan sekolah menengah. Dan saya tergerak buat bikin tulisan ini. Mungkin bisa menjadi sedikit pencerah buat adik-adik yang kemarin habis ngerjain UAN. Karena saya paham rasanya, gimana galaunya. Jadi saya ga rela kalau adik saya ato temen-temen yang bernasib sama, salah untuk mengambil keputusan dan belom bener-bener mengenali diri sendiri. Kalau kata Justin Bieber, “Rasanya sangat sulit untuk mengambil keputusan besar di saat kita berada di peralihan usia remaja dan dewasa.” Oya, ada satu quotes yang saya suka dari Nigel Cole, aktor sama sutradara terkenal, “Semua orang tahu betapa sulitnya menjadi remaja. Di usia ini kamu diharapkan untuk bisa bersikap dewasa. Hal ini sama sekali tidak mudah karena jauh di dalam hati sebenarnya kamu masih tetap merasa anak-anak.”

Sebagai kakak yang baik, saya beri masukan dan beberapa link terkait yang bisa dia baca, renungkan, dan kemudian putuskan (termasuk link dari postingan ini hehehe). Setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Termasuk saya. Ini beberapa “ritual” yang saya lakukan jika saya sedang ada di persimpangan jalan. Mungkin teman-teman bisa mencobanya.

Saya sarankan bagi orang-orang yang mengalami galau seperti ini untuk pergi ke suatu tempat yang sunyi. Kalau bisa jangan di tempat indoor. Karena ini akan memiliki efek psikologis dan pengaruh sama cara berpikir kita (entah ini teori darimana tapi saya juga merasakan kalo lagi mikir dan mecahin masalah di ruang yang dibatasi sekat, rasanya pikiran jadi lebih sempit). Tapi, kalau teman-teman lebih nyaman di kamar, it’s okay. Yang penting: No gadget, no laptop, no interaction with others. Try to talk with your self and define it. Gambar apa yang jadi kebingungan kalian kalo perlu. Saya melakukan ini setiap saat ketika banyak hal mengganjal di pikiran. Saya punya whiteboard sendiri buat numpahin semua kegalauan. Lengkap dengan spidol warna warni. Kalau temen-temen ga ada whiteboard, bisa pakai sketch book atau kertas ukuran agak gede.

Saya biasanya membuat 5 kolom di dalam kertas. Boleh digambar dengan tabel atau tanpa tabel. Gambarnya pakai simbol atau apa aja yang kebayang di imajinasi kamu. Boleh juga pakai tulisan.

Bagian 1 : tujuan utama yang pengen temen-temen capai. Tulis dengan SIZE BESAR atau di tulis tebal
Bagian 2 : masalah yang lagi kamu hadapi
Bagian 3 : solusi yang bisa kamu lakukan
Bagian 4 : target kamu beberapa waktu ke depan
Bagian 5 : rencana detail / upaya yang harus kamu lakukan buat mencapai target

Setelah itu, coba jawab 9 pertanyaan berikut:
1. Apa sih yang bener-bener kalian pengenin?
2. Yang kepengenannya itu tak terbantahkan?
3. Yang kepengenannya sampe kepikiran tiap mau tidur, bahkan sampe kebawa mimpi?
4. Yang kepengenannya diperdebatkan sama orang tua, keluarga, atau orang lain?
5. Yang kalau kalian ngelaksanain itu, kalian bakal tetep ngelakuin bahkan ketika kamu capek sekalipun?
6. Yang kalau kalian ngelakuin itu, kalian bakal ngerasa ketagihan dan dapat energi lebih buat ngelakuinnya lagi?
7. Yang bukan dua, tiga, atau empat hal, tapi satu keinginan aja?
8. Yang pengen banget kamu realisasikan, tapi kamu masih TAKUT untuk merealisasikannya
9. Jadi, sekarang udah tau kepengenannya apa?

Tulis jawaban dari 9 pertanyaan tadi dan COBA TERJEMAHKAN KE DALAM GAMBAR 5 KOLOM.
Setelah selesai, coba dilihat gambarnya. Sekarang, udah lebih jelas dan kebayang kan langkah apa yang mau kamu tempuh selanjutnya?

Satu yang mau saya tekankan disini adalah: ABAIKAN ASPEK REALISTIS. Realistis hanya dibutuhkan oleh orang yang ragu akan hasil pencapaiannya sendiri. Realistis hanya dilontarkan oleh orang yang pesimis dengan kehidupannya sendiri. Saya punya prinsip dalam hidup; “Nahkoda yang pantas untuk memimpin jalan hidup ini adalah saya sendiri. Bukan orang lain.”

Bukan berarti temen-temen jadi buta terhadap segala masukan dan arahan dari orang lain ya. Itu artinya mereka peduli. Pertimbangkan apa yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri. Pertimbangan orang lain bisa dijadikan masukan, tapi bukan untuk dijadikan keputusan. Inget ya, belajar jujur sama diri sendiri. Tanpa intervensi dari orang lain J

18 komentar :

  1. Jujur saya sendiri nggak tau maunya apa. jadi aku kudu piye? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau belum tau pengennya apa, biasanya belum secara penuh mencintai diri sendirinya :) Coba buka link ini, semoga bisa menjadi pencerah untuk bisa tahu "maunya apa" :) http://www.si-pedia.com/2014/03/tes-kepribadian-mbti-online-gratis-bahasa-indonesia.html

      Hapus
  2. Balasan
    1. Asih bisa coba tes MBTI sih http://www.si-pedia.com/2014/03/tes-kepribadian-mbti-online-gratis-bahasa-indonesia.html

      Hapus
  3. Masih muda. Gue masih labil...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usia ga menentukan kelabilan mas hehe. Semangat kenali potensi dirinya ya. Bisa coba tes online di internet banyak sekali

      Hapus
  4. sama, gw juga gak tau mau jadi apa dan ngapain. susah rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa coba tes MBTI aja mas. Di internet banyak sekali yang gratis. Untuk link ada di komen saya yang awal2 ya

      Hapus
  5. Aku banyak banget maunyaaa... Saking banyaknya malah kadang-kadang lupa :| *jangan ditiru*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga manusia hehe pasti banyak maunya. Coba diprioritasin salah satu ya yang bener-bener dipengenin :) terima kasih sudah mampir

      Hapus
  6. hmm. pertanyaan psikologis yg cukup menampar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung dan sharing ya

      Hapus
  7. Saya sendiri kadang bingung antara harus realistis atau nggak. Tapi kalau berpikir realistis emang lebih mudah putus asa, ya. Lebih baik banyak berkhayal :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin dari berkhayal bisa menjadi awal mula pelecut semangat :)

      Hapus
  8. Wah bisa dishare nih. Makasih yaa. Salam kenaal. \(w)/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, senang sekali bisa sharing. Salam kenal juga makasih udah mampir ya :)

      Hapus
  9. waaah makasih nih, postingannya menginspirasi banget. coba ah, insyaallah mengobati kegalauan sebagai pelajar :'(
    btw, salam blogger ya, blogger baru :D

    BalasHapus