. tentang fiksi dan cerita diri .

Memaksa Diri Sendiri, Kenapa Enggak?

Saya bosan.

Hampir seminggu saya tidak beraktivitas seperti biasanya. Bolos kuliah, tidak ikut rapat, dan absen dalam sebuah kepanitiaan. Hanya karena sakit. Mahalnya kesehatan memang bisa menjadi sebuah tolak ukur tersendiri. Dan saya menyesal kenapa tidak dari kemarin-kemarin saya berusaha menjaga kesehatan. Walapun orang bodoh pun juga paham, menyesal selalu datang di akhir. Curhat dikit lah ya, sebenernya jam segini sudah seharusnya saya tidur. Mana badan belum begitu fit. Tapi saya tidak bisa tidur, karena....

Saya bosan.

Bukan bosan karena sakit tadi yang mau saya bahas disini, bukan. Tapi bosan dengan postingan blog saya yang menurut saya, hmm. Tidak ada kemajuan. Sebulan satu postingan. Begitu melulu. Dan parahnya itu terulang-ulang. Itu yang membuat saya tidak bisa tidur. Karena saya memiliki ritual sebelum tidur: selalu memikirkan apa saja yang saya inginkan, apa saja yang belum saya tempuh, dan apa saja apa saja yang lainnya.

Katanya mau jadi penulis? Emang bisa? Kalo latihan nulis saja jarang? Kalo tiap hari aja absen baca buku? Kalo tiap bulan aja jarang beli buku? Fix ya, yang terakhir itu murni ngidam doang, kok. Ya intinya seperti itulah pertanyaan-pertanyaan dari sisi lain jiwa saya yang jahat. (Mungkin lagi berusaha ngedown-in kali, ya)

Untuk mengalahkan sisi lain suara hati yang jahat itu, tentunya kita harus punya pertahanan diri. Ini penting, lho! Istilah gaulnya mental block. Ringkasnya, mental block itu sebuah pertahanan diri kalo misal kita punya pemikiran yang jelek mengenai suatu hal. Pokonya gimana caranya jangan sampe terjerumus sama suara hati yang berusaha ngejatuhin mental kamu. Gitu deh ya kalo dibahasakan. Maap kalo belepotan. Yang mau bahasa lebih formal, saya yakin Mbah Google lebih jago.

Akhirnya, saya kepikiran untuk membuat taktik. Ehm, sebentar. Kayanya terlalu high dan ngidih banget kalo pake kata “taktik”, soalnya ini kerjaan iseng sebenernya. Tapi, trust me it works. Halah, malah iklan. Nggak deng, sumfah ane jujur dan serius ini. Bener-bener simple banget. Saya buat draft 1 hingga draft 5 dan kemudian langsung mempublishnya. Yang namanya draft, tentunya masih mentah ya. Tapi draft saya ini sangat spesial dan lain daripada yang lain! Karena draft saya MASIH KOSONG. Buat apa dong bikin draft, lebih parah daripada mentah, justru kosong sama sekali, dan langsung dipublish? Kurang kerjaan banget, sih! Ooww, kalian belum tahu ya tujuan sebenernya, fufufu. Jadi, disini saya mencoba untuk memaksakan diri. Sekarang udah ngeh kan, sama judul di atas? Inilah yang mungkin dapat mengubah kebiasaan saya menulis sebulan sekali, menjadi menulis sebulan 5 postingan. Ya, saya mencoba untuk memaksa diri saya. Kalau tidak begini, saya tidak akan menulis. Dan apakah kamu tahu, apa keajaiban pemaksaan ini?

Dalam hitungan satu jam, saya bisa langsung menulis bukan hanya 5 draft sekaligus di laptop saya. Tapi 7 draft sekaligus! Ajaib kan? “Banget” kalo menurut saya. Seketika, ide yang tadinya susah terus bingung 'mau nulis apa?'. Ternyata dalam hitungan 60 menit saja, beberapa ide untuk menulis bertebaran begitu saja. Keren bukan? Subhanallah Allah menganugerahkan kemampuan otak yang luar biasa untuk manusia. Terkadang kita memang terjebak dalam rutinitas kemalasan. Malas untuk berpikir. Malas untuk bergerak. Malas untuk berbagi. Dan beribu macam alasan lainnya sehingga kita semudah itu mengucapkan kata “malas”. Otak sejatinya memang perlu dipaksa untuk berlatih dan berpikir ketika memang ada kesulitan yang melanda. Jujur aja sih walau sebenernya ketika saya begitu lancarnya menulis draft, seketika mengalirlah kalimat-kalimat yang memang jika dibaca lagi masih sangat jelek. Yang menurut saya, belum pantas untuk dipublikasikan. Tapi itu semua ga berarti kok, kalo memang hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan. Walau harus dengan sebuah pemaksaan. Bukan begitu, toh? Iyain aja ya, itung-itung nyenengin saya lah.

Saya mau cerita sedikit tentang pemaksaan yang lain. Pernah suatu waktu, saya sengaja menyisihkan uang 100 ribu untuk 7 hari hidup di kosan. Transport sehari saja saya sudah hampir habis 10 ribu, belum makan, fotokopi, pulsa, jajan, beli cupacup, dll. Jika dihitung melalui perhitungan manusia, memang ga akan pernah cukup. Tapi, untuk takaran hitungan Tuhan? Itu sangat cukup, bahkan sisa beberapa puluh ribu lho! Keren kan ternyata. Masih ga percaya saya kalo nginget-nginget kejadian itu. Bisa sengirit itu.


Tidak selamanya memaksakan diri adalah sebuah hal yang negatif.



Jadi, kamu mau mencoba memaksakan diri terhadap hal apa? Mulai dicoba, yuk. Dari sekarang ya! J

1 komentar :