Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

Memaksa Diri Sendiri, Kenapa Enggak?

Saya bosan.

Hampir seminggu saya tidak beraktivitas seperti biasanya. Bolos kuliah, tidak ikut rapat, dan absen dalam sebuah kepanitiaan. Hanya karena sakit. Mahalnya kesehatan memang bisa menjadi sebuah tolak ukur tersendiri. Dan saya menyesal kenapa tidak dari kemarin-kemarin saya berusaha menjaga kesehatan. Walapun orang bodoh pun juga paham, menyesal selalu datang di akhir. Curhat dikit lah ya, sebenernya jam segini sudah seharusnya saya tidur. Mana badan belum begitu fit. Tapi saya tidak bisa tidur, karena....

Saya bosan.

Bukan bosan karena sakit tadi yang mau saya bahas disini, bukan. Tapi bosan dengan postingan blog saya yang menurut saya, hmm. Tidak ada kemajuan. Sebulan satu postingan. Begitu melulu. Dan parahnya itu terulang-ulang. Itu yang membuat saya tidak bisa tidur. Karena saya memiliki ritual sebelum tidur: selalu memikirkan apa saja yang saya inginkan, apa saja yang belum saya tempuh, dan apa saja apa saja yang lainnya.

Katanya mau jadi penulis? Emang bisa? Kalo latihan nulis saja jarang? Kalo tiap hari aja absen baca buku? Kalo tiap bulan aja jarang beli buku? Fix ya, yang terakhir itu murni ngidam doang, kok. Ya intinya seperti itulah pertanyaan-pertanyaan dari sisi lain jiwa saya yang jahat. (Mungkin lagi berusaha ngedown-in kali, ya)

Untuk mengalahkan sisi lain suara hati yang jahat itu, tentunya kita harus punya pertahanan diri. Ini penting, lho! Istilah gaulnya mental block. Ringkasnya, mental block itu sebuah pertahanan diri kalo misal kita punya pemikiran yang jelek mengenai suatu hal. Pokonya gimana caranya jangan sampe terjerumus sama suara hati yang berusaha ngejatuhin mental kamu. Gitu deh ya kalo dibahasakan. Maap kalo belepotan. Yang mau bahasa lebih formal, saya yakin Mbah Google lebih jago.

Akhirnya, saya kepikiran untuk membuat taktik. Ehm, sebentar. Kayanya terlalu high dan ngidih banget kalo pake kata “taktik”, soalnya ini kerjaan iseng sebenernya. Tapi, trust me it works. Halah, malah iklan. Nggak deng, sumfah ane jujur dan serius ini. Bener-bener simple banget. Saya buat draft 1 hingga draft 5 dan kemudian langsung mempublishnya. Yang namanya draft, tentunya masih mentah ya. Tapi draft saya ini sangat spesial dan lain daripada yang lain! Karena draft saya MASIH KOSONG. Buat apa dong bikin draft, lebih parah daripada mentah, justru kosong sama sekali, dan langsung dipublish? Kurang kerjaan banget, sih! Ooww, kalian belum tahu ya tujuan sebenernya, fufufu. Jadi, disini saya mencoba untuk memaksakan diri. Sekarang udah ngeh kan, sama judul di atas? Inilah yang mungkin dapat mengubah kebiasaan saya menulis sebulan sekali, menjadi menulis sebulan 5 postingan. Ya, saya mencoba untuk memaksa diri saya. Kalau tidak begini, saya tidak akan menulis. Dan apakah kamu tahu, apa keajaiban pemaksaan ini?

Dalam hitungan satu jam, saya bisa langsung menulis bukan hanya 5 draft sekaligus di laptop saya. Tapi 7 draft sekaligus! Ajaib kan? “Banget” kalo menurut saya. Seketika, ide yang tadinya susah terus bingung 'mau nulis apa?'. Ternyata dalam hitungan 60 menit saja, beberapa ide untuk menulis bertebaran begitu saja. Keren bukan? Subhanallah Allah menganugerahkan kemampuan otak yang luar biasa untuk manusia. Terkadang kita memang terjebak dalam rutinitas kemalasan. Malas untuk berpikir. Malas untuk bergerak. Malas untuk berbagi. Dan beribu macam alasan lainnya sehingga kita semudah itu mengucapkan kata “malas”. Otak sejatinya memang perlu dipaksa untuk berlatih dan berpikir ketika memang ada kesulitan yang melanda. Jujur aja sih walau sebenernya ketika saya begitu lancarnya menulis draft, seketika mengalirlah kalimat-kalimat yang memang jika dibaca lagi masih sangat jelek. Yang menurut saya, belum pantas untuk dipublikasikan. Tapi itu semua ga berarti kok, kalo memang hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan. Walau harus dengan sebuah pemaksaan. Bukan begitu, toh? Iyain aja ya, itung-itung nyenengin saya lah.

Saya mau cerita sedikit tentang pemaksaan yang lain. Pernah suatu waktu, saya sengaja menyisihkan uang 100 ribu untuk 7 hari hidup di kosan. Transport sehari saja saya sudah hampir habis 10 ribu, belum makan, fotokopi, pulsa, jajan, beli cupacup, dll. Jika dihitung melalui perhitungan manusia, memang ga akan pernah cukup. Tapi, untuk takaran hitungan Tuhan? Itu sangat cukup, bahkan sisa beberapa puluh ribu lho! Keren kan ternyata. Masih ga percaya saya kalo nginget-nginget kejadian itu. Bisa sengirit itu.


Tidak selamanya memaksakan diri adalah sebuah hal yang negatif.



Jadi, kamu mau mencoba memaksakan diri terhadap hal apa? Mulai dicoba, yuk. Dari sekarang ya! J

1 komentar :

Posting Komentar

Tentang Sebuah Penolakan

   src: diamondindonesia.co.id
                                                           

“Nduk, besok habis lulus kuliah mau ngapain?” Tanya Mama di siang bolong.
“Nanti liat dulu Ma, sambil jalan.” Jawabku enteng.
Itu sedikit percakapan antara ibu dan anak yang terjadi 4 bulan yang lalu.
---
“Besok nanti mau kerja dimana, Nduk?” Tanya Mama di suatu malam.
“Opi nanti ga mau kerja, Ma.” Jawabku mantap.
“Gimana ceritanya kamu ga mau kerja???!!#$&*)”:>?cbdgfiedf~!**#@{}
*And the World War III began*

Begitulah beberapa potong percakapan antara aku dan ibu sekitar 3 bulan yang lalu. Orang tua mana yang ga kaget kalo anaknya ga mau kerja? Pasti mayoritas orang tua mengalami reaksi yang sama. Sebenernya aku salah juga, sih. Jawabannya memang kalo dipikir terlalu frontal dan mengagetkan. Ada dua kalimat yang perlu digarisbawahi saat ini. Yang bagian pertama jawabannya ngambang, “Nanti liat dulu Ma, sambil jalan.” Sepintas mirip-mirip ya sama pertanyaannya si cewe, “Mau dibawa kemana hubungan kita?”. Terus cowonya jawab, “Jalani aja dulu lah, ya”.

Si cewe minta kepastian ke cowonya, apa bener-bener serius mereka ngejalanin hubungannya. Sama kaya Mama ke aku, tanya kepastian gimana nasib masa depanku nanti, apa bener-bener serius dijalanin prosesnya.

Bagian kedua, “Opi nanti ga mau kerja, Ma.” Sekilas mirip sama kalo cowo lagi nembak cewe. Terus dijawab sama cewenya, “Aku ga mau jadi pacar kamu.” Dyaarr. Ditolak mentah-mentah. Oke, jujur aja ini jawaban lebih nyakitin daripada bagian pertama. Eh, nyakitin mana sih, digantungin apa ditolak??

Sekarang, ada yang bisa nebak ga, apa persamaannya antara bagian pertama dan kedua? Kalo kamu ngejawab, “Sama-sama sakitnya tuh disini”. Bisa dijamin berarti kamu salah satu orang yang susah move on.

Ngaconya udahan. Jawabannya yang bener itu: saya sama-sama belum siap. Yang pertama, saya belum siap mengutarakan apa yang ada di pikiran. Sehingga jawaban yang keluar dari mulut ya itu tadi, “Nanti liat dulu.” Sedangkan yang kedua, saya belum siap dengan respon yang pasti diterima jika menjawab sesuai dengan hati nurani. Maka saya memilih untuk menjawab praktis, “Saya ga mau kerja”. Walaupun penolakan yang saya lakukan berakibat risiko terjadinya World War III tadi.

Mungkin dari kalian ada yang bertanya-tanya, kenapa saya tidak mau bekerja?

Simple saja, karena saya tidak suka. Saya tidak suka disuruh-suruh si A untuk melakukan sebuah pekerjaan B, dengan cara C, tenggat waktunya D, dan hasilnya harus E. Bekerja disini maksudnya adalah ikut orang lain. Kerja dengan orang lain. Kita yang disuruh, orang lain yang menyuruh. Bahasa kerennya mungkin “berkarier di sebuah perusahaan”. Saya sangat mengerti keadaan diri sendiri. Bahwa saya bukan tipe orang yang nyaman melakukan pekerjaan dengan cara disuruh orang lain.

Alasan lainnya, saya tidak ingin menjadi wanita karier yang berangkat sebelum anaknya bangun, dan pulang malam ketika si anak sudah tidur. Daripada nanti ujungnya resign, mending sekalian aja gausah karier di perusahaan. Praktis banget emang mikirnya.

Belum lagi curhatan dari teman-teman yang sudah lulus kuliah. Hampir tiap hari saya dicurhatin susahnya cari pekerjaan. Trus kalo udah keterima kerja, ngeluh melulu karena pekerjaannya ga sesuai sama yang diharapkan. Ya begitulah risikonya kalo kerja ikut orang lain. Kalo maunya kerja sesuai sama yang diharepin, yaa berarti kudu punya usaha sendiri tho? Bukannya saya nakut-nakutin, tapi faktanya jaman sekarang memang susah banget ngelamar kerja di sebuah perusahaan (soalnya udah pernah ngalamin juga). Saya tidak mau beasiswa S1 selama 4 tahun jadi mubazir dan menambah beban negara dengan menjadi pengangguran.

Lantas kalo ga mau kerja, habis lulus mau ngapain?
Ada dua alternatif yang sudah dipikirkan

1. Ingin melanjutkan pendidikan dengan beasiswa S2 di Amerika atau Inggris. Ambil jurusan finance management atau jurusan yang berhubungan sama bisnis dan manajemen.

2. Cari duit sendiri tapi bukan dengan karier di perusahaan.
Baik alternatif pertama mau pun kedua sebenernya sama-sama meragukan. Yaiyalah meragukan, namanya juga masa depan hehehe. Tapi kalau disuruh milih, saya lebih sreg sama alternatif yang kedua. Ada beberapa pertimbangan yang saya pikirkan kenapa memilih yang ini. Yah, cukup kompleks lah sebenernya. Salah satunya, keinginan tak terbendung saya untuk menjadi penulis internasional. Agak lucu jika nanti saya yang seorang lulusan STM Teknik Komputer Jaringan, pernah bekerja di Event Organizer, kuliah di Manajemen hingga S2 pula, eh ujungnya jadi penulis. Tapi gitu ya kerennya orang Indonesia, masih banyak orang-orang di luar sana yang juga studinya tidak sesuai sama pekerjaannya yang sekarang. Sangat fleksibel. Ini nyambung juga sama postinganku yang sebelumnya tentang ke-fokus-an.

Sembari menyelesaikan tulisan ini dan memostingnya di blog, aku tunjukkan kepada Mama juga Papa, supaya dibaca dan di-aamiin-i dalam setiap doa mereka.


Dan sekarang, aku sudah mampu menerjemahkan apa itu ?!#$&*)”:>?cbdgfiedf~!**#@{} yang diucapkan Mama sebelumnya. Karena kini, giliran Mama Papa yang mengangguk dan menjawab dengan mantap, “Pasti, Nak.”

7 komentar :

Posting Komentar