Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

Harapan Untuk Anakku

  src: photo.elsoar.com

Apa yang kamu bayangin waktu pertama kali baca judul tadi? Aneh? Geli? Mengernyitkan dahi? Jujur, sedikit terdengar lebay memang. Nikah aje belom, udah mikirin anak ye mpok haha. Tapi yaudalah gapapa, masih mending kan lebay nya kali ini bisa tersalurkan jadi tulisan hehehe #ngeles.

Semua orang tentu punya pengharapan, punya keinginan, termasuk aku. Tapi harapan ini jauh terpikirkan untuk beberapa tahun ke depan. Ketika nanti suatu saat aku memiliki anak-anak. Ide buat nulis ini sebenernya terlintas karena beberapa kali diminta tolong sama orang tua buat ke sekolah adek-adek: Fachri, Rizqi, atau Helmi, entah itu untuk ambil rapot, ikut sosialisasi sekolah, bahkan ambil hasil pengumuman kelulusan UAN kaya hari ini. Di tempat tadi, aku nyoba memposisikan diri sebagai “orang tua”, mencoba berkenalan dengan ibu-ibu yang juga punya anak di sekolah itu.

Selain pengalaman di atas, fakta membuktikan bahwa banyak, bahkan banyak sekali anak-anak muda yang masih bingung jika ditanya “Punya cita-cita apa?” atau “Pengen jadi apa?”. Pertanyaan yang simpel namun menurutku sangat kompleks. Beberapa anak di jurusanku kalo dikasi pertanyaan kaya gitu, nanti jadinya kaya gini: “Lo besok habis lulus pengen ngapain?” / “Gue sih pengennya jadi pengusaha”. 
Udah. Gitu. Doang.

Coba sekarang kita telaah kalimat tadi: “Gue pengen jadi pengusaha”. Kalimat yang terdiri dari empat kata itu, menurutku masih terlalu general, belum menggambarkan suatu desire atau keinginan yang kuat untuk mewujudkan apa yang dikatakan orang tersebut, belum memberikan masa jatuh tempo kapan seharusnya lo ngewujudin apa yang tadi diucapin.

Bandingkan dengan yang ini: “Bro, rencana kelar kuliah pengen jadi apa?” / “InsyaAllah 5 tahun lagi gue pengen bisa keterima kerja di kantornya Google di Sillicon Valley, CA, pengen bisa jadi General Managernya”. Kalimat barusan mengungkapkan target waktu, jenis pekerjaan, institusi, lokasi tempat bekerja, dan tentunya juga berisi doa hehehe. Sekarang kelihatan kan dimana bedanya sama kalimat “Gue sih pengennya jadi pengusaha”? Ada yang bisa sebutin bedanya apa? SPESIFIK. Yap, bener banget. Yang atunya general, yang atunya spesifik.

Wait.. wait.. terus apa dong hubungannya harapan pengen punya anak sama curhat masalah klasik anak muda jaman sekarang yang mayoritas bingung pengen jadi apa? Sabar yak ini lagi kutarik benang merahnya kok hehe. Jadi, harapan untuk anakku tadi adalah tentang ke-spesifik-an. Mungkin bisa di break down jadi semacam ini:

Bismillah
-Dari umur 1-5 tahun, anak-anaku udah tahu dia seneng sama hal apa. Entah itu mungkin nyanyi, nari, maen musik, baca puisi, nyinden, berhitung, olahraga, seneng sama hal-hal yang berbau analitis, ngoprek barang, ngegambar, dan lain sebagainya, yang nantinya bisa dikembangkan untuk masa depannya.

-Dari umur 5 tahun udah diajarin jadi pemimpin. Karena aku punya prinsip, apa pun karier anakku nanti, mau dia bekerja di sebuah perusahaan, punya usaha, jadi pekerja seni, atau apa pun, yang jelas sebisa mungkin dia harus jadi pemimpin. Alasannya? Karena pemimpin adalah influencer. Karena pemimpin memiliki pengaruh besar. Karena pemimpin adalah decision maker.

-Umur 10-12 tahun si anak bikin project sosial untuk membantu masyarakat sekitar, dengan memberdayakan sumber daya yang ada di sekitarnya. Mungkin bisa minta bantuan investor, atau bekerjasama dengan LSM atau komunitas. Ide ini dapet inisiatif dari kisah seorang wanita yang subhanallah sekali, yang memiliki cara mendidik anaknya secara luar biasa. Aku lupa namanya siapa, maaf sebelumnya, kalau ada yang tahu silakan bisa di share J

-Christiano Ronaldo, seorang pemain bola dengan puluhan penghargaan dunia. Tiger Woods, pegolf handal yang namanya harum di kancah Internasional. Bill Gates, CEO Microsoft yang tajirnya ampun-ampunan. Michael Jackson, penyanyi legendaris fenomenal yang namanya terkenang sepanjang masa. Hampir semua orang besar, berpengaruh, dan terkenal di dunia ini memiliki satu kesamaan: mereka FOKUS pada bidangnya masing-masing. Pernah denger tentang 10.000 hours rules? Teori ini terkenal lewat kisah Malcolm Galdwell yang berjudul The Outliers. Jadi intinya, untuk bisa menjadi seorang expert dibutuhkan waktu minimal 10.000 jam. Jika setiap hari dilakukan selama 3 jam, maka butuh waktu selama 10 tahun untuk mencapai tingkat expert tersebut. Itulah kenapa sebabnya, dari umur 5 tahun anakku kelak bisa mengerti apa yang disenangi, digeluti secara kontinyu, dan fokus untuk menjadi expert di bidang tersebut.

Kebayang ga sih, kalo dari dulu orang tua kalian membantu mengarahkan, memotivasi, dan mendukung secara penuh di bidang yang kamu senangi, pasti sekarang di usia kamu yang udah 20-an kamu udah jadi seorang professional. Ini yang mendasari semua harapan tadi buat anak-anakku kelak. Andaikata dulu orang tuaku membantu memahami untuk menemukan hal spesifik yang aku senangi, pasti di usia sekarang aku mungkin sudah menjadi penulis hebat yang berpengaruh di dunia. Aku aja baru paham kalo ternyata aku suka nulis beberapa tahun terakhir ini. Padahal, kalo diinget-inget, kebiasaan nulis dan bikin cerita udah aku mulai sejak TK. Nyesel ga sih baru sadar sekarang di usia yang udah 20-an? Terus belasan tahun terakhir dihabiskan buat apa? Mungkin jawabannya adalah: Belasan tahun terakhir digunakan untuk mencari, apa sih yang sebenernya aku sukai? Sekarang coba dibalik: belasan tahun terakhir digunakan untuk memaksimalkan 10.000 hours rules dan berusaha untuk menjadi expert. Bedanya jauh ya?

Yes, udah saatnya beribu tanya yang tadi terlontar dalam tiap kalimat ditutup dengan sebuah kalimat juga. Kalimat ini, aku dapatkan dari Mas Andy Fajar Handika, CEO dari Fajar Montana Group. Beliau memiliki bisnis Foodfezt, Michigo Restaurant, Kopi Oey Yogyakarta, dan makandiantar.com. Awalnya, tahu Mas Andy itu waktu ikut conference Google Indonesia di Sheraton Hotel Yogyakarta, dan akhirnya baru tanggal 8 Juni kemaren, aku dan temen-temen organisasi berinisiatif mengundang beliau jadi pembicara di talkshow technopreneur. Beliau luar biasa. He’s really inspiring.

"Waktu terbaik pertama untuk menjadi ................... (ganti dengan impianmu) adalah 5 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah saat ini." -Andy Fajar Handika-


*Yang pengen tahu tentang 10.000 hours rules bisa baca disini: http://www.wisdomgroup.com/blog/10000-hours-of-practice/

3 komentar :

Posting Komentar