. tentang fiksi dan cerita diri .

Semester Empat, Apa yang Mau Kamu Dapat?

 source : lomography
                                      
Satu, dua, tiga, yah beberapa hari ke depan udah masuk semester 4 ya *inhale exhale*. Ga berasa banget memang, “kemaren” masih cupu pake hitam putih jaman ospek (emang sekarang udah ga cupu? -.-), besok tau-tau udah lulus aja, trus sukses, nikah, punya anak, hidup bahagia hingga tua, syalala~. Sekilas mainstream memang, tapi sebenernya bukan itu yang saya idamkan, dan tentunya bukan juga yang ingin saya bicarakan.

Ngaca bentar deh ya nengok spion, lihat beberapa tahun ke belakang...

**
Alkisah kala itu, sekitar 2 tahun yang lalu, waktu semester 1, masih semangat-semangatnya kuliah (sekarang juga masih semangat kok), udah bikin planning banyak tentang kegiatan yang bakal diikutin. Maklum lah, masih mahasiswa baru, masih adaptasi sama lingkungan kampus, masih gampang “dicuci otak” sama senior-senior, dan masih-masih yang lain lagi. Intinya jadi maba itu masih unyu banget, gampang banget dicekokin apa-apa. Ditambah saat itu bener-bener kerasa transisinya, dari dunia kerja ke dunia perkuliahan. Saking terbiasanya sama kerjaan di kantor yang menumpuk juga multitasking, udah kuliah pun sifat kaya gitu masih aja dibawa-bawa. Contoh gampangnya, baru beberapa minggu kuliah, saya udah gabung ke grup sekolah bisnis di fakultas sebelah, bikin usaha, jualan, ikut kompetisi bisnis plan nasional walau cuma jadi tim behind the scene, tapi alhamdulillah masih masuk 25 besar. Itu masih satu bidang kegiatan, belum lagi kalo ditawarin senior, “Dek, ikut ini yuk, bagus loh acaranya blablablaa...”, ato lagi jalan nengok mading, banyak banget poster bertebaran dengan tulisan OPEN RECRUITMENT, JOIN WITH US! dan bermacam poster dengan bubuhan kalimat persuasi yang menggoda, menggoyahkan iman buat nyoba-nyoba ikut. Pernah ga sih, kalian mikir gini?, “Ikut dulu deh, keterima enggaknya urusan belakangan. Keterima sukur, ditolak yaudeh.” Bagi yang pernah, sebenernya ini tanda-tanda sebuah keraguan lho! Sadar ga sadar, alam bawah sadar kita terkadang mengiyakan hal ini, right? (Maaf kebanyakan kata “sadar”). Ada suatu kondisi dimana kita, yang masih belum menemukan “dimana sih seharusnya kita berada?”, sedang mencari-cari pencarian sebuah jati diri, sebentuk lingkungan, sebongkah passion, atau apa pun hal itu, yang membuatmu merasa pantas dan bisa menjadikanmu berkembang. Dan itu sangat disadari terjadi di dalam diri saya, yang kala itu masih menjadi maba.

Sekali, dua kali, dan berlanjut beberapa kali interview open recruitment baik itu organisasi, atau Unit Kegiatan Mahasiswa sudah saya coba. Ya dengan prinsip seperti itu tadi; coba dulu, urusan diterima nggaknya nanti sajalah. Selanjutnya satu persatu, pengumuman lolos tidaknya mulai terlihat: 2 UKM tingkat universitas, dan 2 organisasi menyatakan saya lolos dan masuk dalam “join with us”. Ada rasa bangga dan bahagia, ya semacam itu. Berproses di keempat tempat tersebut tentunya mendapatkan banyak keuntungan, jejaring saya bertambah, semakin melatih skill beradaptasi, pengalaman, juga peluang untuk terus mengeksplorasi diri. Namun seperti selayaknya hukum alam, ada untung pasti ada juga ruginya; saya jadi jarang pulang ke rumah, kuliah sering pulang malam bahkan larut, IP mungkin tidak terlalu WOW, capek juga pastinya, intinya manajemen waktu bener-bener diuji disini. Perlahan-lahan semakin beranjaknya waktu, semakin semester ini bertambah angka, dan semakin dewasanya usia saya, ternyata saya menyadari bahwa saya salah. Prinsip coba-coba tadi bukan prinsip orang sukses. Ya, BUKAN PRINSIP ORANG SUKSES! Belasan buku sudah saya lahap dan juga brainstorming dengan berbagai orang yang sudah lebih dulu mengalami hal ini. Semester 1 mungkin saya bisa melaluinya, semester 2 yah rada keteteran, semester 3 sepertinya saya sudah hampir angkat tangan, dan akhirnya... Kalian tahu akhirnya apa?? Akhirnya saya dihadapkan pada suatu momen dimana saya tidak bisa memilih. Memilih diantara satu, dua, tiga, bahkan mungkin empat. Ketika kerancuan timbul diantara berbagai macam statement, mendistorsi pikiranmu sehingga tidak bisa mengambil sebuah premis yang tepat untuk satu keputusanmu. Saya tak bisa memilih karena saya mencintai. Mencintai semuanya yang saya inginkan, yang saya ikuti, yang saya rencanakan. And do you know what? If you want to get everything, finnaly you got nothing.

**

Sekarang sudah semester empat. Sudah saatnya saya berbenah. Masanya memilih dimana seharusnya saya berada. Atur posisi bagaimana seharusnya kamu ditempatkan, dan selaraskan dengan tujuan hidupmu. Kenali apa yang kamu senangi, ketahui apa yang kamu ingini, dan itu hanya SATU. Bukan dua, tiga, atau bahkan empat. Atau kamu sama sekali takkan memperoleh apa yang seharusnya kamu dapat.

4 komentar :

  1. ciyeeh makin dewasa aja ini sahabatku yang satu ini *padahal wes pernah ngebahas ini hahaha*

    BalasHapus
  2. Haha bisa aja deh lan. Iya kaya gini wes dibahas rak meng pisan pindo haha. Thanks udah baca n komen ya lan :)

    BalasHapus
  3. Sof.... sumpah aku suka banget tulisan yang ini. :D
    aku banget duluuuuuuu.. kadang sekarang masih godaan iman sih.. pengen ini pengen itu.. yah tapi, "kadang kita emang harus belajar untuk bekata tidak untuk kesempatan sebagus apapun itu, jika memang itu nggak searah dengan mimpi kita."---> pelajaran habis semester lima.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiiw mbak fiiff haha surprised nih dikomen mbak fif makasihh yaa udah baca n sharing :D
      Iyaa kan emang laper mata godaan iman pengen nyoba ini itu tapi yah mau gimana lagi mbak, emang harus latihan jangan jadi yesman kalo emg ga cocok sama mimpi kita :)

      Hapus