. tentang fiksi dan cerita diri .

Ketika Teh Memaknai Segalanya



Lengkingan tinggi teko yang masak. Bercampur dengan kepul asap dalam gelas berisi taburan teh. Larut dalam butiran gula dan mengental. Segelas tinggi teh hangat siap menemani sekarang.

Selagi panas aku terdiam. Tak sabar untuk segera menyeruput dan menikmati sensasi kehangatannya. Yah, sedikit metafora untuk malam ini.

Bayangkan saja, di saat otak rasanya berkecamuk: penuh, terbagi, tidak fokus, atau entah apa pun itu. Hati ini masih saja merasakan suatu ketenangan. Kala dilantukannya ayat-ayat indah, sebuah makna tak terhingga sepanjang masa. Beribu kata terusik, hinggap dalam naungan di atas kepala. Rasa-rasanya bibir ini pun tak sanggup menerjemahkannya dalam sebuah kata.

Cukup, itu tadi sekedar hiperbola J

Ini sekarang nyata.

Baru habis separuh kuminum teh serbuk, yang kata orang Jawa bilang itu “teh kepyur”. Pikiran ini tiba-tiba muncul: “Semua yang aku lakukan ternyata seperti teh yang aku minum sekarang”. Belum mengerti? Okay, let see this..

Apa yang kamu lakukan saat baru saja membuat teh panas? Langsung meminumnya? Mungkin hanya orang yang lidahnya mati rasa yang mau melakukannya.

Sejenak, pasti kamu akan mendiamkannya. Mendiamkan supaya panas itu hilang. Berharap digantikan oleh kehangatan yang selanjutnya bisa dinikmati. Ini semua sama. Sama seperti yang aku, kamu, kita, atau kalian alami. Analogi rasa panas adalah masalah atau semua hambatan yang pasti muncul. Entah itu dalam kuliah, karier, perjalanan spiritual, atau kehidupan. Masalah selalu muncul di awal. Untuk menakuti, membuat gamang, atau bahkan membiarkan kita untuk segera mundur dan angkat tangan. Tapi kemudian apa yang seharusnya kita lakukan? Hanya diam. Ya, cuma diam. Sesederhana itu bukan? Diam untuk menunggu proses panas menjadi hangat. Diam untuk merasakan dan memahami sebenarnya “masalah apa yang sedang kita alami”. Diam untuk berpikir secara jernih, langkah mana yang seharusnya diambil. Dan tentu “diam” yang lain, yang membuat kita bisa lebih mengerti dan menerjemahkan bahwa masalah itu sebenarnya datang dari Tuhan untuk kita pecahkan, untuk bisa menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Seteguk, dua teguk, hingga mungkin habis sampai tetesan terakhir. Itu adalah perjalanan usaha yang selama ini kita tempuh. Proses yang selama ini kita lewati. Mulai dari teguk pertama yang agak panas, kemudian hangat, dan akhirnya menjadi nikmat. Yang perlahan rasanya sulit, lama kelamaan menjadi mudah. Yang awalnya belum bisa, kemudian menjadi biasa. Tapi coba lihat.. setelah teh habis, masih ada juga ampas yang tersisa di dasar gelas. Ini mungkin sama seperti sebab akibat dari terjadinya suatu perbuatan. Selagi ada yang baik, pasti ada yang buruk. Di saat ada kelemahan, pasti juga ada kelebihan. Sederhananya, sebaik-baiknya usaha yang kita perjuangkan, pasti ada satu titik. Titik dimana menandakan kelemahan. Satu celah yang membuat kita lengah, dan membuktikan bahwa kita memang manusia, dimana tidak ada sesuatunya yang berjalan dengan sempurna. Untuk itulah mungkin ditemukan kata “evaluasi”, “introspeksi”, atau diksi lain yang maknanya sama. Supaya membuat kita mengerti dan memperbaiki apa yang telah kita perbuat sebelumnya.

Sebenarnya, segala kejadian selalu ada perumpamaan. Tuhan menciptakan sesuatu tak lepas dari analogi benda atau suatu hal yang bisa dijadikan perbandingan. Ini tinggal bagaimana dan darimana kita memiliki sudut pandang serta memaknai segala sesuatunya.

Ya, inilah aku. Sang penikmat. Penikmat segala proses.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar