. tentang fiksi dan cerita diri .

Janjiku Untuk Indonesia





Sore ini, semula niatnya mau merapikan rak buku, tapi ternyata ada satu set formulir pendaftaran beasiswa yang terselip. Setelah kuingat-ingat, ternyata aku punya hutang untuk menunjukkan isi essay ini kepada seseorang. Akhirnya kupostinglah tulisan ini.

Ini berawal dari keinginanku yang besar untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun karena keterbatasan kondisi dan keadaan yang mengharuskan untuk bekerja terlebih dahulu, akhirnya beasiswa lah yang menjadi target “pelampiasan keinginanku” tadi. Bermacam-macam info beasiswa kulahap. Menyeleksi mana saja yang sekiranya memenuhi requirements. Email juga penuh dengan scholarship subscribe. “Pokoknya tahun ini aku harus kuliah gimana pun caranya”. Cuma itu yang ada di otak saat itu. Kuliah. Bukan bekerja. Belajar. Bukan cari duit.

Aku mencoba mendaftar program fellowship di salah satu universitas ternama di Jakarta. Alhamdulillah dari 939 orang pendaftar, aku termasuk dalam 148 orang yang lolos untuk mengikuti tahap interview. Syukur alhamdulillah, benar-benar alhamdulillah. Waktu itu sempat aku minta cuti selama beberapa minggu. Urus dokumen, bolak balik Jakarta-Jogja-Semarang-Jakarta, benar-benar makan waktu (dan juga ongkos). Singkatnya, H-1 sebelum interview, posisi saat itu masih ada di Semarang untuk ambil dokumen sekaligus menjemput Papa yang ingin mengantar interview.

Malamnya dengan Senja Utama, kami pun berangkat ke Jakarta dengan tujuan Stasiun Pasar Senen. Setelah beberapa jam perjalanan, Papa mencolekku yang saat itu sedang membaca buku TOEFL. “Pie, lihat jendela”, katanya. Sejenak langsung kualihkan pandanganku dari buku menuju jendela. PETARUKAN+10. Dengan plang besar berwarna biru tua. Aku kaget dan bertanya, “Pa?”. Papa hanya mengangguk. Astaghfirullahaladziim. Entah kenapa tiba-tiba tubuhku merinding. Melihat ke luar, ke arah stasiun kecil itu. Gelap. Hanya ada rumah-rumah penduduk di sekitar situ. Auranya mencekam dan berbeda. Benar-benar beda. Aku sedikit terisak. Melirik ke arah Papa yang duduk sambil melihat jendela juga. Ada pancaran lain yang kulihat dari sorotan matanya. Ini trauma.

Aku terdiam. Kugenggam tangan Papa sambil memejamkan mata. “Ya Allah, berikan ketenangan terhadap semua orang yang meninggal di sini. Ampuni dosanya. Mereka tidak salah Ya Tuhan..”


06.10 AM
Sampai Mampang, kami saat itu turun di belokan gedung asuransi atau apa (lupa) dan masih harus berjalan selama 15 menit karena universitasnya letaknya ada di seberang. Ya mengerti lah, kalo di Jakarta, posisi “seberang” tidak mudah untuk ditempuh karena ada palang/pagar besi tinggi sebagai pembatas jalan, jadi harus sedikit memutar dan “melipir-melipir”. Sebenarnya perut sudah krucuk-krucuk minta jatah. Tapi tak apa lah, namanya juga perjuangan J. Yang membuat menarik disini adalah, aku ditemani Papa sepanjang perjalanan dari Tawang sampai di kampus. Dan itu istimewa sekali. Kami bercanda, tertawa, ngobrol setiap momen, sampai berdoa bersama di dalam kereta. There’s nothing gonna be more fun than spending time with you, Dad

Setelah beberapa pengantar tadi, inilah dia Essay yang menjadikanku lolos ke tahap selanjutnya, yang berhasil menyelamatkanku dari saingan sekian ratus orang se-Indonesia, orang-orang yang memiliki mimpi yang sama. Here it is. Proudly, Janjiku Untuk Indonesia.

Indonesia, negeri yang tersohor karena Gemah Ripah Loh Jinawi-nya. Dengan berbagai macam suku bangsa yang ada, sumber daya yang melimpah, keanekaragaman budaya, benar-benar kaya akan segalanya. Tapi, kekayaan tak semata-mata menjadi patokan keberhasilan. Tanpa diimbangi dengan pengelolaan yang benar, bagaimana bisa mempertahankan kekayaan ini secara terus menerus? Eksploitasi besar-besaran sudah menjadi kebiasaan di hampir semua bidang. Misalnya pemanfaatan minyak gas bumi yang bisa diprediksikan beberapa tahun mendatang akan habis. Walaupun sudah ditemukan biogas sebagai penggantinya, tetapi belum semua kalangan memanfaatkan alternatif ini.

Keadaan ini benar-benar membuat miris dan menjadikan pertanyaan besar, mau dibawa kemana negeri ini kelak? Dengan segala masalah yang dialami, bencana alam dimana-mana, kelaparan merajalela, kemiskinan tak kunjung mencapai titik temunya, pendidikan yang masih jauh dari harapan, hingga korupsi yang seakan menjadi tradisi di hampir semua birokrasi. Sebagai pemudi yang peduli terhadap keberlangsungan hidup bangsa ini, saya ingin memberikan sumbangsih yang mungkin nilainya tidak seberapa tapi memberikan manfaat yang besar suatu hari nanti. Karena saya rasa, kekuatan tegaknya Indonesia ada di tangan para pemuda yang nantinya akan memimpin dan memperjuangkan negeri ini.

Sikap ini muncul melihat kondisi lingkungan sekitar yang jauh dari kelayakan. Banyak anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan yang semestinya. Setiap Sabtu siang hingga sore, saya sempatkan diri untuk saling berbagi ilmu dan cerita, memberikan materi pembelajaran untuk anak-anak SD di dekat rumah. Malamnya saya jadwalkan untuk yang SMP. Saya senang sekali karena minat belajar anak-anak tinggi, bahkan yang mengikuti kegiatan ini bertambah. Dengan latar belakang mereka yang sederhana, bahkan jauh dari kecukupan dan orang tua yang kurang peduli terhadap pendidikan, tidaklah mudah menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang benar-benar menyadari betapa pentingnya arti pendidikan. Sedangkan negeri ini butuh insan-insan yang mumpuni di bidangnya, yang mengembangkan potensi dan kesempatan demi kemajuan bangsa.

Saya berusaha untuk memperbaiki keadaan mulai dari lingkungan yang terkecil, lingkungan yang paling dekat dengan tempat tinggal, yang mungkin suatu hari nanti dengan kelebihan yang saya miliki dapat membantu lebih banyak pula. Saya tidak punya tenaga untuk berusaha sekuat mungkin, apalagi materi untuk memberi. Saya hanya punya ilmu dan meluangkan waktu untuk berbagi dengan mereka, generasi penerus bangsa. Ini semua bukan hanya sekedar janji, tapi bukti. Bukti yang saya nyatakan dengan perbuatan. Saya percaya tidak berjuang sendirian, masih banyak yang peduli dan menginginkan generasi ini menjadi generasi berpengharapan yang bisa diandalkan, untuk menjadikan Indonesia lebih dan lebih baik.

Itu tadi, essay sederhana yang mengungkapkan suatu kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar, bentuk kejujuran dari sebuah tindakan. Sebenarnya sih ada satu essay lagi, pasangan dari Janjiku Untuk Indonesia tadi. Tapi, beberapa penggalan kalimat di essay Perjuangan Hidupku akan saya jadikan quotes untuk hari ini:
“Saya menyadari hidup ini benar-benar harus diperjuangkan karena semua hal yang besar bermula dari yang kecil. Dengan segala keterbatasan kondisi, saya tetap bersyukur karena tidak diberi keterbatasan dalam berpikir, bermimpi, dan menikmati segala hal yang telah saya dapatkan. Dan saya percaya semua mimpi ini dapat terwujud berkat ridho orang tua, tidak mudah putus asa, dan kerja keras. Saya, bisa menjadi lebih dari sekedar ‘hebat’”.
Jakarta, 25 Maret 2012 – Sofy Nito Amalia.                                                                            



Tidak ada komentar :

Posting Komentar