. tentang fiksi dan cerita diri .

Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 2)





Postingan ini adalah lanjutan dari cerita kemarin yang mengisahkan tentang segala hal yang berkaitan dengan aku dan bus kota. Lalu kemana “anak jalanan” nya?

Kumpulan cerita yang terjadi bermula dari seringnya aku naik bus kota dan selalu menjumpai anak jalanan yang sedang “bekerja”. Bekerja dalam artian untuk makan, setor upah, atau bahkan ngelem? Cuma mereka yang tahu jawabannya.
--


12.00 PM. Semarang dalam posisi yang sangat terik. Matahari tega sekali menjadikan tapak ini semakin gontai untuk melangkah. Dalam kondisi seperti ini masih mengharuskanku kembali ke rumah hanya untuk mengambil sebuah dokumen? Padahal panas menyengat begini? #YaSudahlahSofJanganMengeluh.

Seperti biasa kalau mau balik rumah, rutenya: jalan kaki dari kosan sampai kantor pos - naek angkot kuning - turun patung kuda Diponegoro - naek bus kota jurusan Johar Terboyo Banyumanik - turun PLN Pemuda – jalan kaki lagi sampai rumah. Dengan rute yang seperti ini, saya bisa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk turun dari Tembalang sampai ke Gajahmada. Sedangkan jika mengendarai motor, hanya dengan waktu 30 menit (bahkan kalau saya yang naik motor bisa 15 menit dengan catatan jalanan tidak begitu rame) udah sampe di rumah. Tapi ini lah sensasinya naek bus! Banyak gregetnya! Hehehe.

Sebenarnya yang jadi persoalan dan membuat lama di dalam bus biasanya ada empat faktor; yang pertama angkot kuning sering muter-muter dulu ke daerah kampus untuk cari penumpang, sehingga penumpang-penumpang yang turun di Ngesrep dinomorduakan. Yang kedua, bus kotanya ngetem karena bukan waktunya “traffic rush” yang notabene anak-anak sekolah plus karyawan-karyawan pada berangkat atau pun balik. Ketiga, terjadi kemacetan di daerah Jatingaleh yang mengharuskan saya untuk bersabar di dalam bus. Dan yang terakhir adalah, faktor saya ketiduran di dalam bus. Sering saya mendapati diri ini terbangun dan ternyata sudah sampai Kantor Pos Pasar Johar. Bahkan yang lebih parah waktu itu ternyata terbangun di daerah Stasiun Tawang yang jaraknya “lumayan” kalau dari rumah. KEBABLASAN. Ya, itu lah faktor terakhir yang menurut saya sangat konyol. Bayangkan saja, di kala waktu semakin lama karena rute semakin jauh dari tujuan, itu masih mengharuskan saya untuk turun, menunggu bus lagi, naek bus lagi, jalan kaki, baru lah sampai rumah. Sebegitu ribetnya kan? Tapi yang namanya rasa kantuk memang dasarnya tak dinanya tak diduga sering muncul secara tiba-tiba. Walau jujur saja, sebenarnya saya tipe orang yang pelor (nempel molor) juga sih hehehe (Duh, akhirnya ngaku juga - -“) .

.................... (Baru sadar ternyata sudah melenceng jauh dari topik cerita. Oke, lanjut.)


Waktu itu bus kota tengah melaju kencang karena turunan dari daerah Gombel menuju Jatingaleh. Sampai di Pasar Jatingaleh, seperti biasa bus selalu ngetem di bawah jembatan penyebrangan, disusul naiknya dua orang pengamen yang wajahnya asing. *Catatan: karena terlalu sering naik bus, secara tidak langsung aku hafal wajah-wajah pengamen, pengemis, dan warga jalanan lainnya, tempat mangkal dan naik busnya, bahkan sampai lagu yang dibawakannya. Kulihat sekilas. Kucal dan dekil. Layaknya pengamen pada umumnya. Tetapi yang ini masih abege, seperti anak SD-baru-puber-lalu-menginjak-bangku-SMP. Mereka sepertinya tidak sadar, mata ini sedari awal menatap dan memperhatikan mereka. Sepertinya bakal ada sesuatu menarik yang akan terjadi, feelingku sih begitu.


“Crek.. crek.. crek..”
“Aku iki wong ra nduwe”
“Jare bapak aku wes gedhe”
“Aku iki nakal dhewe, aku iki ndableg dhewe”

“Satus rongatus kulo terimo”
“Sewu rongewu tak damel nedha”
“Limangewu kulo anggep morotuwo”
“Seketewu wes mesti ditrimo”

“Jaman saiki jaman abege”
“Akeh prawan ketok udele”
“Dikandhani kok malah ngece”
“Jarene nambahi pede”
“Kok ra isin karo bapake..”
“Jreng.. jreng.. jreng..”

“Penumpang seng amale kurang”
“Neng neroko dijegurke jurang”
“Penumpang seh okeh amale”
“Sesok sesok entuk penake”
“(Neng suargo dipakani sateee).”

“Ciri-cirine iku wong pelit”
“Jare ngamale ra tau”
“Paribasan ono wong ngamen”
“Jebule etok-etok turu”
“(Etok-etok turu karo ngampet ngguyuuuu..”).
“Crikicriik.. jreng Ejrengejreengg..”

“Yaa.. sekian celotehan dari kami, para anak jalanan. Maaf jika suara hati kami mengganggu perjalanan Anda. Semoga para penumpang selamat sampai tujuan. Hati-hati barang bawaan jangan sampai tertinggal.........dst”


Itulah tadi, beberapa penggal kisah “Jeritan hati anak jalanan”yang dilagukan dengan nada “Shalatullah salamullah”. Blak-blakan saja ya, sebenarnya saya ini tidak hafal dengan lirik lagu tersebut. Kenyataannya, saat mendengar nada dan lirik pertama dari pengamen itu, sontak langsung ambil hape dan mencatatnya di draft. Ada rasa menggelitik saat mendengarkan duo pengamen tadi berduet. Jelas, liriknya sangat unik. Ada rasa kejujuran, keprihatinan, bahkan mungkin ancaman terhadap penumpang yang tidak mau membayar “jasa suara” mereka. Yang bikin salut, mereka membawakan lagunya dengan indah. Sebenarnya suaranya biasa saja, tapi petikan + genjrengan gitar dibawakan dengan mumpuni, serta dikombinasikan dengan cekrekan tutup botol dengan sangat apik. Layaknya lead guitar (cekrekan) dan rhytm guitar (gitar) yang diaransemen dalam suatu alunan gita dengan lirik yang “polos” tapi sarat dengan makna. Satu yang tak bisa dibohongi dari penampilan mereka adalah, ekspresi yang benar-benar real ditonjolkan dan dipersembahkan untuk para penumpang bis kota. Dengan kondisi seperti itu, apakah Anda bisa menebak? Ya, masing-masing orang dengan sukarela memberikan satus, rongatus, bahkan lebih, kepada mereka sebagai tanda persetujuan jeritan hati mereka; para anak jalanan. Walau yang terpikir di benak ini berbeda, “Jangan-jangan semuanya memberi receh karena takut dengan ancaman duo pengamen di lagu tadi hehehe”.
--


12.46 PM. Sampai lah sudah aku di depan kantor PLN Jalan Pemuda. Lebih dari 45 menit bus tadi di jalan. Alhamdulillahnya saya tak kebablasan. Dan sepertinya saya harus berterimakasih terhadap dua orang pengamen cilik tadi, yang membuatku berpikir dan merenung sehingga diri ini tetap terjaga. Sejenak mengingat momen tadi, pikiran ini membayangkan secara sederhana: Seandainya, seandainya loh ini, Pak EsBeYe naek bus yang sama dengan yang aku naiki tadi, lantas apa yang akan beliau lakukan? Akan kah mungkin, saya yang semisal duduk di sebelah bangkunya mengajaknya berbicara sambil membawa UUD 45, “Ini lho pak, saya baca disini, tepatnya di Pasal 34 ayat 1 yang berbunyi, ‘Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara’. Sebenarnya apa maksud substansi dari UUD 45 tersebut ya pak?”

Bangun dari khayalanku yang gila mengenai tiba-tiba-Pak-SBY-naek-bus-terboyo-johar-itu, sebenarnya nalar ini masih terus meraba-raba. Benarkah contoh perbuatan duo pengamen tadi? Yang meluapkan segala perasaannya dan menuangkannya dalam suatu bentuk lagu? Ataukah salah Undang-Undang? (Hey, yang namanya UUD tidak bisa disalahkan!). Apa kah salah legislatif si pembuat Undang-Undang? Jawab woy, SEBENARNYA INI SALAH SIAPA??!


*Tarik napas dalam-dalam—hembuskan...*
Ya, sebenarnya kita tidak patut menyalahkan keadaan, seseorang, bahkan takdir. Sebagai bangsa yang besar, kita dituntut untuk pro aktif dalam menyikapi segala permasalahan yang terjadi, apalagi di negara kita sendiri. Akan tetapi.. (ada ‘tapi’nya nih), yang masih menjadi pertanyaan besar itu “Sebenarnya ini salah siapa” tadi. Akan kah pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan retoris yang tidak perlu untuk dijawab? Atau kah kita harus menjawab dengan kalimat klise, “Hanya waktu yang mampu menjawabnya”? Begitu kah?? Yah, Entahlah....




***** Bersambung ke “Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 3)”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar