. tentang fiksi dan cerita diri .

Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 1)



Antara aku, bus kota, dan anak jalanan. Mengapa postingan malam ini judulnya harus seperti itu??
--

Hampir separuh kehidupan perjalanan yang benar-benar di jalan, aku rasakan di dalam bus. Entah itu bus kota, shuttle bus, rapid bus, atau bahkan bus antar kota antar provinsi. Bus lah yang selalu mengantarkanku kemana pun aku mau. Bus juga yang paling cocok sebagai teman nge-bolang dan travelling karena paling irit untuk urusan duit. Bahkan di saat kaki ini tak tahu kemana harus melangkah, bus menjadi satu-satunya pilihan bagiku untuk berkeliling kota. Tinggal naik, duduk, hingga busnya memutar lagi di tempat kala aku naik. Tidak ada tujuan bukan? Yah, namanya juga pengen jalan-jalan. Iseng. Ga ada kerjaan. Atau kesepian? (Yang terakhir bohong hehehe).

Banyak cerita menarik yang terjadi saat aku berada di dalam bus. Ada saja kejadian yang membuatku tertawa, jengkel, atau bahkan bisa untuk bahan perenungan. Yang jelas ada saja. Aku masih sangat ingat momen pertama kali naik bus. Masih kelas 3 SD dan hanya membayar tiga ratus perak. Saat itu masih ngetrennya bus Damri yang berukuran jumbo, seat-nya 3-2 dan kursinya terbuat dari fiber berwarna biru tua. Tak jarang kursinya retak sehingga saat duduk dan busnya melewati rel kereta, pantat rasanya terjepit karena shockbreaker bus yang memang kondisinya sudah uzur. Belum lagi saat timer (di Jogja sebutannya "tukang kekker", kekker=teropong) yang bertugas mencatat jadwal datang-pergi bus dan memberitahu sopir kalau di depan masih ada bus lain dengan rute yang sama dan posisinya sudah dekat. Udah bisa ditebak deh, yang jelas pasti kebut-kebutan. Ugal. Masih pakai teriak-teriakan, ya itu syukur kalau tidak pakai mengumpat (walau ini jarang terjadi). Menariknya, ada konvensi atau aturan tidak tertulis saat di dalam bus, antara lain:

1. Naik dengan kaki kanan dan langsung memegang tiang di sisi pintu.
2. Turun dengan kaki kiri. Sering kenek/kondektur selalu mengatakan "turun kiri turun kiri". Sebaiknya ga usah terlalu banyak mikir dan laksanakan saja perintahnya. Karena aku pernah mencoba melanggarnya dengan turun menggunakan kaki kanan. Ujungnya apa? Tersandung dong jelas.
3. Aturan nomor satu dan dua tidak berlaku bagi orang kidal.
4. Jangan berdiri di depan pintu saat kursi sudah penuh. Kalau mau mencoba untuk iseng, tunggu saja sebentar lagi juga bakal dimarahi kenek karena menghalangi akses naik turun penumpang.
5. Jangan memakai ransel seperti memakai ransel pada umumnya. Buanglah sebentar rasa malu untuk menggunakan ransel dengan gaya robot, yaitu ransel ditaruh di depan. Maklum kriminalitas tinggi.
6. Jangan memberi ongkos kurang dari semestinya.
7. Sudah. Sepertinya aturan yang saya tulis makin lama makin ngaco.


Nah, ada lagi nih yang sering saya tertawa sendiri saat mendengar kenek berteriak lantang "YOOOO KIWO PREIIII!!!"
Hahaha adaaaa saja ungkapan untuk memberi tahu sopir bahwa di sebelah kiri bus sedang tidak ada kendaraan.

Yang ini lain lagi. Kalau kejadian kali ini hanya terjadi di daerah Bekasi. Di sana ada daerah yang namanya Jatibening yang terkenal dengan terminal bayangannya di pinggir tol Pondok Gede Timur. Sempat terjadi kontroversi dan kisruh warga terhadap pihak Jasa Marga. Bagaimana warga tidak marah, karena terminal bayangan tersebut satu-satunya akses jalan menuju Jakarta dan sekarang malah mau ditutup? Apa kata dunia? Mau naik apa saya kalau kerja? Terkadang instansi atau pihak terkait sering berlaku (yang tujuannya baik) menertibkan masyarakat, salah satunya dengan akses blokade jalan. Akan tetapi, seharusnya kan ada solusi alternatif yang baik sebagai penggantinya. Bukan kah begitu? Oke cukup, sekarang saatnya skip karena sebenarnya bukan itu yang mau saya ceritakan.
Karena saking terkenalnya terminal bayangan Jatibening, otomatis kan banyak yang naik turun dari situ. Salah satunya saya, karena daerah tempat tinggal memang di Jatibening. Yah setidaknya saya bangga lah menjadi warga Jatibening. Gimana ngga bangga sih, kalau tiap mau turun bus, selalu dipanggil kenek dengan sebutan "Yooo yang bening, yang bening, yang beniiiiiiinggg". Hahaha setiap hari selalu dipanggil "bening" sama kenek busnya :p .
Tapi "panggilan khusus" ini ga imbang sama warga yang tinggal di daerah Tambun. Sering mereka yang turun selalu merasa tidak enak karena dipanggil dengan sebutan "Yang tambun, yang tambun, yoooo yang tambun turuuuun". Hahaha sebenarnya kenek-kenek di Indonesia memang kreatif-kreatif ya :D


Karena kondisi hari sudah semakin mendekati Dini (maksudnya dini hari). Saya pamit dulu mau istirahat. Masih ada lagi part 2 yang menjadi titik klimaks dari cerita ini. Tunggu di postingan selanjutnya!

2 komentar :

  1. sofi pertama gw mau ngomong kalo terminal bayangan jatibening itu sudah ditertibkan. Jd tetep buka kok.
    Kedua blog lo emg gokil habis. Gw sebagai jawa tulen bangga sama lo(cina insen) hehe
    No to racism ya :D
    Ketiga gw suka. Suka gaya tulisan lo. Sofi banget!

    Liat blog benakribo deh!
    11-12 sama radityadika menurutku hehe
    Sama-sama punya bakat.




    Nb: Bakat gila hehe
    *bakat gila itu bikin orang ketawa dan terharu.. :,D

    BalasHapus
  2. Sekarang udah ditertibkan? Oke syukurlah kalo gitu. Jadi udah ga ada orang pada demo lagi kaya dulu.
    Yah, itu sedikit menyimpang ke arah rasis ya kalo lo bilang gue cina, ya walau bener juga tapi bukan cina insen juga kali haha.
    Alhamdulillah semoga apa yang menurut lo "kegilaan" itu bermanfaat ya :)

    BalasHapus