Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

Apakah Ini Cinta?






Hati yang terkalahkan oleh kudeta
Perlahan luluh menembus sukma
Rasa yang tak pernah dinanya
Akankah seterang Canopus
Sekuat Zeus
Atau bahkan sepanas Tartarus
Perasaan sederhana
Bisa memalingkan dunia
Atau membuatmu gila
Apakah ini cinta?
Coba tanyakan kepada Hera
Mungkin dia akan berkata, “ya”

1 komentar :

Posting Komentar

Dengar!






Tertoreh raut datar
Sebongkah tangan kasar
Sejenak tatapan nanar
Perlahan asa pun terpendar

Jiwa yang perlahan pudar
Setiap waktu hanya bisa berujar, sabar
Walau waktu sudah melangkah ke asar
Tak ada beda, tetap saja tergelepar

Jika saja aku sadar
Ini cuma sebuah gambar
Pastilah harumnya tak seperti mawar
Atau manisnya tak seperti nektar
Ini hanya,
Tak lebih dari sekedar tawar
Dan ini cuma,
Perasaan liar
Yang lama sudah tidak dibayar


Mlwrmn.Smg.24.4.13.15.19

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Seharusnya





Kerinduan erat kaitannya dengan kealpaan
Sesuatu yang dirindukan sudah pasti tidak berada di ranah yang sama
Sedangkan kealpaan berhubungan dengan melupakan
Seonggok kealpaan sudah seharusnya tidak dinalar
Karena yang alpa itu tidak ada
Kenapa yang alpa itu masih diingat?
Pahamkah kamu?
Adakah korelasinya?
Mungkin saja,
Hanya orang-orang yang pernah kehilangan
Yang akan merasakannya


Semarang, 25 April 2013. 22:31 PM

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 2)





Postingan ini adalah lanjutan dari cerita kemarin yang mengisahkan tentang segala hal yang berkaitan dengan aku dan bus kota. Lalu kemana “anak jalanan” nya?

Kumpulan cerita yang terjadi bermula dari seringnya aku naik bus kota dan selalu menjumpai anak jalanan yang sedang “bekerja”. Bekerja dalam artian untuk makan, setor upah, atau bahkan ngelem? Cuma mereka yang tahu jawabannya.
--


12.00 PM. Semarang dalam posisi yang sangat terik. Matahari tega sekali menjadikan tapak ini semakin gontai untuk melangkah. Dalam kondisi seperti ini masih mengharuskanku kembali ke rumah hanya untuk mengambil sebuah dokumen? Padahal panas menyengat begini? #YaSudahlahSofJanganMengeluh.

Seperti biasa kalau mau balik rumah, rutenya: jalan kaki dari kosan sampai kantor pos - naek angkot kuning - turun patung kuda Diponegoro - naek bus kota jurusan Johar Terboyo Banyumanik - turun PLN Pemuda – jalan kaki lagi sampai rumah. Dengan rute yang seperti ini, saya bisa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk turun dari Tembalang sampai ke Gajahmada. Sedangkan jika mengendarai motor, hanya dengan waktu 30 menit (bahkan kalau saya yang naik motor bisa 15 menit dengan catatan jalanan tidak begitu rame) udah sampe di rumah. Tapi ini lah sensasinya naek bus! Banyak gregetnya! Hehehe.

Sebenarnya yang jadi persoalan dan membuat lama di dalam bus biasanya ada empat faktor; yang pertama angkot kuning sering muter-muter dulu ke daerah kampus untuk cari penumpang, sehingga penumpang-penumpang yang turun di Ngesrep dinomorduakan. Yang kedua, bus kotanya ngetem karena bukan waktunya “traffic rush” yang notabene anak-anak sekolah plus karyawan-karyawan pada berangkat atau pun balik. Ketiga, terjadi kemacetan di daerah Jatingaleh yang mengharuskan saya untuk bersabar di dalam bus. Dan yang terakhir adalah, faktor saya ketiduran di dalam bus. Sering saya mendapati diri ini terbangun dan ternyata sudah sampai Kantor Pos Pasar Johar. Bahkan yang lebih parah waktu itu ternyata terbangun di daerah Stasiun Tawang yang jaraknya “lumayan” kalau dari rumah. KEBABLASAN. Ya, itu lah faktor terakhir yang menurut saya sangat konyol. Bayangkan saja, di kala waktu semakin lama karena rute semakin jauh dari tujuan, itu masih mengharuskan saya untuk turun, menunggu bus lagi, naek bus lagi, jalan kaki, baru lah sampai rumah. Sebegitu ribetnya kan? Tapi yang namanya rasa kantuk memang dasarnya tak dinanya tak diduga sering muncul secara tiba-tiba. Walau jujur saja, sebenarnya saya tipe orang yang pelor (nempel molor) juga sih hehehe (Duh, akhirnya ngaku juga - -“) .

.................... (Baru sadar ternyata sudah melenceng jauh dari topik cerita. Oke, lanjut.)


Waktu itu bus kota tengah melaju kencang karena turunan dari daerah Gombel menuju Jatingaleh. Sampai di Pasar Jatingaleh, seperti biasa bus selalu ngetem di bawah jembatan penyebrangan, disusul naiknya dua orang pengamen yang wajahnya asing. *Catatan: karena terlalu sering naik bus, secara tidak langsung aku hafal wajah-wajah pengamen, pengemis, dan warga jalanan lainnya, tempat mangkal dan naik busnya, bahkan sampai lagu yang dibawakannya. Kulihat sekilas. Kucal dan dekil. Layaknya pengamen pada umumnya. Tetapi yang ini masih abege, seperti anak SD-baru-puber-lalu-menginjak-bangku-SMP. Mereka sepertinya tidak sadar, mata ini sedari awal menatap dan memperhatikan mereka. Sepertinya bakal ada sesuatu menarik yang akan terjadi, feelingku sih begitu.


“Crek.. crek.. crek..”
“Aku iki wong ra nduwe”
“Jare bapak aku wes gedhe”
“Aku iki nakal dhewe, aku iki ndableg dhewe”

“Satus rongatus kulo terimo”
“Sewu rongewu tak damel nedha”
“Limangewu kulo anggep morotuwo”
“Seketewu wes mesti ditrimo”

“Jaman saiki jaman abege”
“Akeh prawan ketok udele”
“Dikandhani kok malah ngece”
“Jarene nambahi pede”
“Kok ra isin karo bapake..”
“Jreng.. jreng.. jreng..”

“Penumpang seng amale kurang”
“Neng neroko dijegurke jurang”
“Penumpang seh okeh amale”
“Sesok sesok entuk penake”
“(Neng suargo dipakani sateee).”

“Ciri-cirine iku wong pelit”
“Jare ngamale ra tau”
“Paribasan ono wong ngamen”
“Jebule etok-etok turu”
“(Etok-etok turu karo ngampet ngguyuuuu..”).
“Crikicriik.. jreng Ejrengejreengg..”

“Yaa.. sekian celotehan dari kami, para anak jalanan. Maaf jika suara hati kami mengganggu perjalanan Anda. Semoga para penumpang selamat sampai tujuan. Hati-hati barang bawaan jangan sampai tertinggal.........dst”


Itulah tadi, beberapa penggal kisah “Jeritan hati anak jalanan”yang dilagukan dengan nada “Shalatullah salamullah”. Blak-blakan saja ya, sebenarnya saya ini tidak hafal dengan lirik lagu tersebut. Kenyataannya, saat mendengar nada dan lirik pertama dari pengamen itu, sontak langsung ambil hape dan mencatatnya di draft. Ada rasa menggelitik saat mendengarkan duo pengamen tadi berduet. Jelas, liriknya sangat unik. Ada rasa kejujuran, keprihatinan, bahkan mungkin ancaman terhadap penumpang yang tidak mau membayar “jasa suara” mereka. Yang bikin salut, mereka membawakan lagunya dengan indah. Sebenarnya suaranya biasa saja, tapi petikan + genjrengan gitar dibawakan dengan mumpuni, serta dikombinasikan dengan cekrekan tutup botol dengan sangat apik. Layaknya lead guitar (cekrekan) dan rhytm guitar (gitar) yang diaransemen dalam suatu alunan gita dengan lirik yang “polos” tapi sarat dengan makna. Satu yang tak bisa dibohongi dari penampilan mereka adalah, ekspresi yang benar-benar real ditonjolkan dan dipersembahkan untuk para penumpang bis kota. Dengan kondisi seperti itu, apakah Anda bisa menebak? Ya, masing-masing orang dengan sukarela memberikan satus, rongatus, bahkan lebih, kepada mereka sebagai tanda persetujuan jeritan hati mereka; para anak jalanan. Walau yang terpikir di benak ini berbeda, “Jangan-jangan semuanya memberi receh karena takut dengan ancaman duo pengamen di lagu tadi hehehe”.
--


12.46 PM. Sampai lah sudah aku di depan kantor PLN Jalan Pemuda. Lebih dari 45 menit bus tadi di jalan. Alhamdulillahnya saya tak kebablasan. Dan sepertinya saya harus berterimakasih terhadap dua orang pengamen cilik tadi, yang membuatku berpikir dan merenung sehingga diri ini tetap terjaga. Sejenak mengingat momen tadi, pikiran ini membayangkan secara sederhana: Seandainya, seandainya loh ini, Pak EsBeYe naek bus yang sama dengan yang aku naiki tadi, lantas apa yang akan beliau lakukan? Akan kah mungkin, saya yang semisal duduk di sebelah bangkunya mengajaknya berbicara sambil membawa UUD 45, “Ini lho pak, saya baca disini, tepatnya di Pasal 34 ayat 1 yang berbunyi, ‘Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara’. Sebenarnya apa maksud substansi dari UUD 45 tersebut ya pak?”

Bangun dari khayalanku yang gila mengenai tiba-tiba-Pak-SBY-naek-bus-terboyo-johar-itu, sebenarnya nalar ini masih terus meraba-raba. Benarkah contoh perbuatan duo pengamen tadi? Yang meluapkan segala perasaannya dan menuangkannya dalam suatu bentuk lagu? Ataukah salah Undang-Undang? (Hey, yang namanya UUD tidak bisa disalahkan!). Apa kah salah legislatif si pembuat Undang-Undang? Jawab woy, SEBENARNYA INI SALAH SIAPA??!


*Tarik napas dalam-dalam—hembuskan...*
Ya, sebenarnya kita tidak patut menyalahkan keadaan, seseorang, bahkan takdir. Sebagai bangsa yang besar, kita dituntut untuk pro aktif dalam menyikapi segala permasalahan yang terjadi, apalagi di negara kita sendiri. Akan tetapi.. (ada ‘tapi’nya nih), yang masih menjadi pertanyaan besar itu “Sebenarnya ini salah siapa” tadi. Akan kah pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan retoris yang tidak perlu untuk dijawab? Atau kah kita harus menjawab dengan kalimat klise, “Hanya waktu yang mampu menjawabnya”? Begitu kah?? Yah, Entahlah....




***** Bersambung ke “Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 3)”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Antara aku, bus kota, dan anak jalanan (Part 1)



Antara aku, bus kota, dan anak jalanan. Mengapa postingan malam ini judulnya harus seperti itu??
--

Hampir separuh kehidupan perjalanan yang benar-benar di jalan, aku rasakan di dalam bus. Entah itu bus kota, shuttle bus, rapid bus, atau bahkan bus antar kota antar provinsi. Bus lah yang selalu mengantarkanku kemana pun aku mau. Bus juga yang paling cocok sebagai teman nge-bolang dan travelling karena paling irit untuk urusan duit. Bahkan di saat kaki ini tak tahu kemana harus melangkah, bus menjadi satu-satunya pilihan bagiku untuk berkeliling kota. Tinggal naik, duduk, hingga busnya memutar lagi di tempat kala aku naik. Tidak ada tujuan bukan? Yah, namanya juga pengen jalan-jalan. Iseng. Ga ada kerjaan. Atau kesepian? (Yang terakhir bohong hehehe).

Banyak cerita menarik yang terjadi saat aku berada di dalam bus. Ada saja kejadian yang membuatku tertawa, jengkel, atau bahkan bisa untuk bahan perenungan. Yang jelas ada saja. Aku masih sangat ingat momen pertama kali naik bus. Masih kelas 3 SD dan hanya membayar tiga ratus perak. Saat itu masih ngetrennya bus Damri yang berukuran jumbo, seat-nya 3-2 dan kursinya terbuat dari fiber berwarna biru tua. Tak jarang kursinya retak sehingga saat duduk dan busnya melewati rel kereta, pantat rasanya terjepit karena shockbreaker bus yang memang kondisinya sudah uzur. Belum lagi saat timer (di Jogja sebutannya "tukang kekker", kekker=teropong) yang bertugas mencatat jadwal datang-pergi bus dan memberitahu sopir kalau di depan masih ada bus lain dengan rute yang sama dan posisinya sudah dekat. Udah bisa ditebak deh, yang jelas pasti kebut-kebutan. Ugal. Masih pakai teriak-teriakan, ya itu syukur kalau tidak pakai mengumpat (walau ini jarang terjadi). Menariknya, ada konvensi atau aturan tidak tertulis saat di dalam bus, antara lain:

1. Naik dengan kaki kanan dan langsung memegang tiang di sisi pintu.
2. Turun dengan kaki kiri. Sering kenek/kondektur selalu mengatakan "turun kiri turun kiri". Sebaiknya ga usah terlalu banyak mikir dan laksanakan saja perintahnya. Karena aku pernah mencoba melanggarnya dengan turun menggunakan kaki kanan. Ujungnya apa? Tersandung dong jelas.
3. Aturan nomor satu dan dua tidak berlaku bagi orang kidal.
4. Jangan berdiri di depan pintu saat kursi sudah penuh. Kalau mau mencoba untuk iseng, tunggu saja sebentar lagi juga bakal dimarahi kenek karena menghalangi akses naik turun penumpang.
5. Jangan memakai ransel seperti memakai ransel pada umumnya. Buanglah sebentar rasa malu untuk menggunakan ransel dengan gaya robot, yaitu ransel ditaruh di depan. Maklum kriminalitas tinggi.
6. Jangan memberi ongkos kurang dari semestinya.
7. Sudah. Sepertinya aturan yang saya tulis makin lama makin ngaco.


Nah, ada lagi nih yang sering saya tertawa sendiri saat mendengar kenek berteriak lantang "YOOOO KIWO PREIIII!!!"
Hahaha adaaaa saja ungkapan untuk memberi tahu sopir bahwa di sebelah kiri bus sedang tidak ada kendaraan.

Yang ini lain lagi. Kalau kejadian kali ini hanya terjadi di daerah Bekasi. Di sana ada daerah yang namanya Jatibening yang terkenal dengan terminal bayangannya di pinggir tol Pondok Gede Timur. Sempat terjadi kontroversi dan kisruh warga terhadap pihak Jasa Marga. Bagaimana warga tidak marah, karena terminal bayangan tersebut satu-satunya akses jalan menuju Jakarta dan sekarang malah mau ditutup? Apa kata dunia? Mau naik apa saya kalau kerja? Terkadang instansi atau pihak terkait sering berlaku (yang tujuannya baik) menertibkan masyarakat, salah satunya dengan akses blokade jalan. Akan tetapi, seharusnya kan ada solusi alternatif yang baik sebagai penggantinya. Bukan kah begitu? Oke cukup, sekarang saatnya skip karena sebenarnya bukan itu yang mau saya ceritakan.
Karena saking terkenalnya terminal bayangan Jatibening, otomatis kan banyak yang naik turun dari situ. Salah satunya saya, karena daerah tempat tinggal memang di Jatibening. Yah setidaknya saya bangga lah menjadi warga Jatibening. Gimana ngga bangga sih, kalau tiap mau turun bus, selalu dipanggil kenek dengan sebutan "Yooo yang bening, yang bening, yang beniiiiiiinggg". Hahaha setiap hari selalu dipanggil "bening" sama kenek busnya :p .
Tapi "panggilan khusus" ini ga imbang sama warga yang tinggal di daerah Tambun. Sering mereka yang turun selalu merasa tidak enak karena dipanggil dengan sebutan "Yang tambun, yang tambun, yoooo yang tambun turuuuun". Hahaha sebenarnya kenek-kenek di Indonesia memang kreatif-kreatif ya :D


Karena kondisi hari sudah semakin mendekati Dini (maksudnya dini hari). Saya pamit dulu mau istirahat. Masih ada lagi part 2 yang menjadi titik klimaks dari cerita ini. Tunggu di postingan selanjutnya!

2 komentar :

Posting Komentar

Biarkan gambar yang berbicara



Ini hanya sebuah gambar. Lalu, apa yang kau pikirkan?

2 komentar :

Posting Komentar

Renungan di Tengah Malam



Tulisan ini bermula dari upaya untuk “sedikit” merombak tampilan, script, serta memasukkan beberapa resep SEO ke dalam blog ini. Membaca postingan-postingan lama, dan menyadari perubahan bahasa serta gaya penulisan dari waktu ke waktu. Terkadang ini memiliki sensasi tersendiri ketika menyadari diri ini sudah beranjak semakin dewasa. Seiring berjalannya waktu, proses selalu tumbuh dalam mengubah keadaan. Begitu kah benarnya?
---

Postingan ini, yang membuatku terhenyak saat mata tertuju pada tanggal postingan, hari Rabu, 1 Oktober 2010. Entah kenapa aku sedikit-banyak sensitif terhadap bulan Oktober tahun 2010. Ya, banyak sekali cerita di dalam bulan itu. Peristiwa yang mengubah hidupku entah sekian ratus derajat. Tanggal itu adalah tanggal dimana aku pertama kalinya menjalani Praktek Lapangan Kerja (PKL) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Excited, gembira, deg-degan, penasaran, takut salah, dan masih banyak lagi perasaan lain yang membaur di hari pertama. As long as I’ve worked and get the atmosphere is so far so good. Harapannya, hari-hari ke depan akan menyenangkan dan dapat dijadikan pengalaman berharga.

Hari kedua PKL berjalan mulus semulus hari pertama. Namun rasanya jauh berbeda saat sorenya aku tiba di rumah paman dan mendapati kabar bahwa: ayahku mengalami kecelakaan kereta. Sesaat aku masih berkata, “Ga mungkin kan om, Papa aja ga naek kereta kok.” Tetapi aku sadar semuanya benar saat televisi mengabarkan berita yang sama. Seketika aku lemas, shock. Aku sejenak linglung dan bingung harus berbuat apa. Kereta Senja Utama yang dinaiki ayah ditabrak dari belakang oleh Argo Bromo Anggrek, yang katanya kereta nomor satu paling cepat di Indonesia. Aku bahkan tak tahu, informasi bahwa Argo Bromo Anggrek merupakan kereta paling cepat itu tepat atau tidak dimasukkan dalam bahan berita di televisi. Entah presenternya saat itu memang berniat menakut-nakuti atau memang dasarnya raja tega. Kembali pikiran ini menjadi liar, membayangkan bagaimana remuknya kereta gerbong ke-9 yang dinaiki oleh Ayahku. Yang jelas saat itu aku masih belum tahu kondisi Ayah yang sebenarnya. Kucoba menghubungi Ibu, jaringan ponselnya sibuk. Tanya kabar ke saudara yang lain, nomornya tak terhubung. Aku panik. Puluhan sms dari teman-teman masuk secara berurutan ke nomor ponselku, mencoba untuk menenangkan dan menyuruhku untuk terus berdoa. Aku justru menangis. Bahkan sekarang, saat aku mengetik postingan ini, tanganku masih gemetar dan merinding saat mengingat masa laluku. Beberapa menit aku mencoba untuk searching dan menemukan berita tentang hal ini. M. Tantowi, nama Ayahku yang menjadi korban luka berat, tertulis jelas di berita. Sekarang pun rasanya aku masih tak percaya bahwa ini benar adanya. Bahkan yang lebih membuatku kaget, ternyata ada salah satu blog yang menceritakan detik-detik kejadian tragis itu secara detail. Sungguh membuatku bergidik dan merinding. Aku... ah sudah lah, aku tak sanggup lagi melanjutkan cerita ini hingga selesai, karena di pikiran ini langsung terbayang kejadian secara detail yang diceritakan oleh Ayah.

Semenjak kejadian itu, harapan ku untuk melanjutkan studi S1 yang jelas pupus. Sesaat aku merasa marah kenapa harus seperti ini yang aku alami. Apakah aku bisa tegar? Bagaimana dengan nasibku setelah lulus SMK nanti? Mengingat aku memiliki 3 orang adik yang masih sama-sama sekolah? Dan membiayai hidup keluargaku? Aku harus bagaimana? Tuhan, aku harus bagaimana??!
---

Dari kejadian tersebut aku belajar untuk memahami bagaimana Kuasa Tuhan itu berjalan. Bagaimana mukjizat Allah datang dan membantu hamba-hambaNya yang selalu tabah dan ikhlas dalam menghadapi kemelut waktu. Bagaimana menyelesaikan “ketidak-adilan kehidupan”. Bagaimana bertahan dalam rasa ketidakbersanggupan. Bagaimana menjadi tegar saat hati ini merasa rapuh. Dan entah sekian juta “bagaimana” yang lain yang aku tanyakan pada Tuhan, dan aku dapati pula jawaban-jawabannya dengan sangat indah.

Rasa “mengganjal” ini hilang sudah saat aku tuntaskan postingan ini. Adakalanya kita merasakan berputarnya roda-roda waktu dan mengalami masa-masa yang sangat kelam. Mungkin masa-masa indah dan membahagiakan, atau bahkan kebalikannya? Yah, hanya Tuhan lah yang tahu. Yang jelas, semua cerita yang ada selalu mengindikasikan bahwa, “Tidak ada satu kejadian pun yang luput dari garis kehidupan, yang sudah tertuang di Kitab Lauh Mahfuz. Kita hanya perlu berusaha dengan penuh dan berdoa terus menerus. Selanjutnya biarlah “tangan-tangan Tuhan” yang invisible yang akan mengerjakannya.”
---

Ada pilu. Ada kegetiran. Rasa sedih. Kasih sayang. Penuh cinta. Bahagia. Serta semua perasaan yang ada. Ya, hidupku memang penuh warna...

Semarang, 15 April 2013 23:22 pm

Tidak ada komentar :

Posting Komentar