Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

STM itu LUAR BIASA




Siang ini, saat mata kuliah pengantar manajemen berlangsung, ada satu hal yang menarik dan saya soroti lebih dalam. Waktu itu, dosen menerangkan mengenai perbedaan karakteristik mental antara person yang berlatarbelakang lulusan S1 dengan person yang ‘hanya’ lulusan STM. Can you guess what is it? MENTAL. Ya, hanya itu yang jelas-jelas menjadi pembeda, dan secara tidak langsung saya mengangguk, tanda bahwa alam bawah sadar ini sinkron dengan ucapan tadi.

Jujur saja, saya adalah lulusan STM yang benar-benar merasakan apa yang dibicarakan oleh dosen tersebut, dan saya bangga menjadi lulusan STM, BENAR-BENAR BANGGA. Alasannya? Sederhana!
KERJA KERAS! Hanya itu yang diajarkan kepada kami. Terus menerus. Setiap hari. Dan selalu berulang-ulang. Di sekolah kami, selalu ditekankan prinsip bahwa, DUNIA (KERJA) ITU KERAS. Hampir tidak ada waktu untuk mengeluh atau malah merenungi nasib. Mental kami benar-benar ditempa disini. Bayangkan saja, kondisi saya saat itu yang tinggal di sebuah desa yang damai di Sleman. Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 15 kilometer dan berada di pusat kota Yogyakarta. Kendaraan pribadi pun tak ada, hanya sebuah bus kota butut dan kumal yang selalu setia mengantarkan ke sekolah. Kondisi ini mengharuskan saya bangun maksimal jam 04.30 pagi dan sudah harus berangkat pukul 05.45. Praktek, tinjauan, evaluasi, mengerjakan project, menyelesaikan job, serta beberapa organisasi yang saya ikuti merupakan seabrek kegiatan yang harus dilakoni saben harinya. Tentu ada konsekuensi yang harus saya terima akibat kegiatan ini: pulang sore. Sering saya (bahkan) tidak dapat bus untuk angkutan pulang, yang tentu saja (harus) merepotkan beberapa teman untuk mengantarkan pulang.

Tapi ini semua belum seberapa dengan pengorbanan dan niat menuntut ilmu beberapa orang teman saya, yang benar-benar membuat bangga memiliki teman seperti mereka. Mereka bertempat tinggal di Bantul (yang saya maksudkan di sini Bantul paling pojok, pucuk pantai) yang berjarak 20 hingga 30 kilometer dari sekolah. Dan apakah kalian tahu, naik apa mereka berangkat ke sekolah? Sepeda Onthel. Itu pun sudah butut dan kondisinya sudah uzur. Seperti yang kita tahu, kondisi alam dan geografis wilayah Yogyakarta tidak ada yang “mulus”. Lihatlah, betapa tegarnya mereka. Niat untuk menuntut ilmu mereka benar-benar tinggi. Dalam hati pun saya berdoa, “Ya Tuhan, berikanlah kemudahan dan kesuksesan bagi saya dan orang-orang seperti mereka yang selalu berusaha walau dalam keterbatasan”.
Itulah sekelumit, atau malah sebagian kecil kisah kehidupan anak STM, sejauh yang saya tahu (dan rasakan). Begitu beratnya pengorbanan untuk “hanya sekedar” menuntut ilmu, menggapai cita-cita, dan memutus rantai kebodohan.

Lihatlah sekilas saja, tempat parkir STM kami, tidak ada satu mobil pun yang dimiliki oleh siswa. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan sekarang, berkuliah di tempat elite dan mayoritas memiliki kendaraan roda empat. Di sana, kendaraan mewah maksimal hanya motor Suzuki Satria FU atau ada beberapa yang memiliki Ninja, selebihnya motor bebek biasa, matic, dan pastinya “sepeda onthel”. Walau begitu, jangan pernah sekali pun meremehkan kami, kaum-kaum kecil, golongan yang memiliki keterbatasan, untuk tidak pernah memiliki mimpi. Jangan salah, prestasi sekolah kami sangat membanggakan. Di jurusan saya, Teknik Komputer Jaringan, berhasil mendapatkan juara pertama dalam kompetisi web sekolah se-Indonesia. Jurusan lain pun tak kalah ketinggalan dengan berbagai macam prestasi yang telah ditorehkan.
Karakteristik, pengembangan diri, mental, dan moral kami digembleng selama 3 tahun. Dan saya rasakan saat ini, benar-benar subhanallah. Banyak hal yang saya sadari, berubah dalam diri saya, tentunya ke arah yang lebih baik.

Satu hal yang dapat saya cermati di sini adalah: kita semua dapat mengambil pelajaran moral bahwa, “Keprihatinan seseorang terhadap suatu kondisi menjadikan kita lebih mawas dan membatasi terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan”. Saya dan teman-teman saya benar-benar prihatin dalam masa menuntut ilmu, karena kami sadar, kami disini kecil, tapi KAMI PUNYA MIMPI YANG SANGAT BESAR. Kami  juga tahu, bahwa jalan ini masih sangat panjang dan terjal untuk ditempuh. Hedon, hura-hura, dan hal semacamnya merupakan barang haram bagi kami, karena itu adalah faktor penghambat dalam meraih cita-cita.

Salah kaprah masyarakat menganggap, lulusan STM hanya bisa menjadi kuli, menjadi pekerja, pesuruh, bukan atasan. Saya menentang keras statement itu! Di STM diajarkan semangat kewirausahaan dan leadership, dalam hal ini diaplikasikan terhadap berbagai macam kompetensi dan skill yang kami miliki. Theory without practice is bullshit! Banyak teori sama saja dengan NATO (No Action Talk Only). Realitanya, apa yang terjadi di lapangan biasanya sangat bertolak belakang dengan teori yang ada, walau tak selamanya keadaan menggambarkan seperti ini. Namun sadar atau tidak, beginilah kondisi yang terjadi pada umumnya, right? STM merupakan Sekolah Tempa Mental, yang saat ini benar-benar saya rasakan manfaatnya.
The last but not least, jangan pernah sekalipun meremehkan seorang lulusan STM. Dan percayalah, lulusan STM dengan gender perempuan, biasanya lebih tangguh dari apa yang kalian duga J

3 komentar :

Posting Komentar