Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

Menjadi Spesialis di Tengah Lesunya Ekonomi Global


Job fair. Curriculum Vitae. Lowongan Pekerjaan.


3 hal tadi jadi trending topic di lingkungan pertemanan saya, lingkungan mahasiswa tingkat akhir. 

“Jaman sekarang cari kerja susah.”
Kalimat itu entah sudah ratusan kali didengungkan oleh ratusan orang yang berbeda pula. Menjadi viral dan sakti. Sakti karena terlanjur jadi stigma yang kian dibenarkan oleh para job seeker.

Sedikit dialog yang menggelitik pikir saya dari beberapa orang teman:
A : “Fresh graduate kaya kita gini, gimana caranya dapet gaji banyak, ya?”
B : “Ah ga usah bingung, kalau mau dapet gaji gede, kerja di oil company aja, dijamin gajinya gede!”

Faktanya, beberapa bulan lalu, media-media di Indonesia santer memberitakan mengenai beberapa perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang migas dan elektronik yang (isunya) melakukan Pemutusan Hubungan Kerja pada ribuan karyawannya. Ada yang mengatakan “bukan PHK”, tapi “hanya efisiensi perusahaan”, atau “upaya perusahaan dengan perampingan”. 

Yah, apa pun namanya, itu sudah cukup menjadi notice bagi kami semua calon job seeker untuk lebih aware dengan fenomena saat ini. Berita PHK, efisiensi, dan perampingan ini semakin heboh karena gelombang PHK akan segera menghantui sektor lain di Indonesia. Saya tidak ingin menakut-nakuti. Saya juga tidak mau berprasangka pada media yang mungkin hiperbola.

Oke, mungkin contoh di atas terlalu raksasa karena saya mengambil contoh korporasi.

Bagaimana dengan contoh kecil yang ini. 
Sekarang semua orang bisa menjadi penulis dan menerbitkan karyanya sendiri. Self publishing adalah solusinya. Apakah kemudian para author dan major publisher memprotes kehadiran para self publisher?
Sekarang semua orang bisa menjadi reporter, melakukan pemberitaan, kemudian menyebarluaskannya. Video recorder di smartphone dan YouTube adalah solusinya. Apakah kemudian para jurnalis dan reporter menjadi tidak terima dengan kehadiran smartphone dan Youtube?
Jawabannya, tentu saja tidak!

Apa pun profesi yang kita geluti, kemudian ditekuni dan dikembangkan skill nya sehingga menghasilkan dan mencukupi kebutuhan hidup, saya sebut sebagai spesialis. Spesialis adalah orang yang menggantungkan hidupnya pada strength yang dimilikinya. Mungkin spesialis ini merasa memiliki strength yang hebat, dan kemudian berhenti belajar, karena menganggap strength itu bisa menjadi modal utamanya seumur hidup. 
Tetapi, apa faktanya? Baik kasus besar yang terjadi di korporasi dan kasus kecil yang terjadi pada individu menunjukkan bahwa, karir seseorang bisa mati pelan-pelan.

Dengan fenomena yang seperti itu, saya masih heran, mengapa masih banyak orang yang berpikir, “yang penting kerja dapet gaji gede.” Bukannya berpikir, “kerja untuk bisa survive dan hasilnya bermanfaat buat orang banyak, nggak cuman bermanfaat buat diri sendiri.”
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." --Buya Hamka

Jika hanya berpikir dapat gaji gede saja. Kemudian setelah itu di PHK? Mau menangis dan mengadu ke siapa? Usia sudah tidak memungkinkan untuk mendaftar kerja lagi dan mendapatkan hasil yang mapan, kemudian harus bagaimana? Melakukan demo sampai blokade jalan utama hingga harus diliput stasiun televisi seluruh Indonesia juga bukan jawabannya.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Jangan salahkan lesunya ekonomi global. Jangan salahkan sumber daya alam yang makin lama makin habis. Jangan salahkan dunia industri yang lagi ga stabil belakangan ini. Jangan salahkan inflasi yang semakin tahun semakin mencekik leher. Jangan salahkan daya beli masyarakat yang turun. Jangan salahkan harga komoditas yang lemah. Jangan salahkan pemerintah karena regulasi dan kebijakan yang ga semuanya tepat sasaran. Jangan salahkan kedatangan era informasi dan teknologi. Jangan salahkan apa pun. Jangan salahkan siapa pun.

Sekarang, ayo mikir bareng! 

Jadi spesialis di tengah lesunya perekonomian saat ini bukanlah hal yang salah. Saya justru appreciate dengan orang-orang spesialis, karena kemampuan fokusnya yang sangat baik. Mungkin ada yang menganut “The 10.000 hours of rule” milik Malcolm Gladwell dalam bukunya “Outliers”. Kan buat jadi sukses harus fokus ke satu bidang, dan latihan selama 10.000 jam. Cakep, tuh. Atau ada yang bilang, kalo ga spesialis itu namanya ga konsisten! Ora popo

Namun di sisi lain, ga akan ada yang bisa memprediksi gimana dunia di masa depan. Saya ga menyarankan kita semua buat jadi cenayang dan ahli nujum supaya bisa ngeramal gimana kondisi masa depan. Prediksi itu butuh ilmu khusus dengan melihat history atau pergerakan trend. Dan ga semua orang bisa.
Then, how?

1. Cermati sejarah, lalu ikuti fenomena saat ini
Kodak adalah contoh nyata. Mereka adalah spesialis dengan hasil cetakan foto yang bagus. Padahal, masyarakat sekarang kan udah jarang banget cetak foto. Karena mereka ga melakukan strategi baru, Kodak kini hanya tinggal kenangan. 

Nokia juga sama, menjadi spesialis “Connecting People”. Kemampuan voice quality dan user friendly nya ga perlu diragukan lagi. Tapi, kita sendiri tahu faktanya. Orang-orang jaman sekarang udah ga terlalu sering menelepon. Yang ada, aplikasi messaging atau chatting justru laris manis. Ya udah, Nokia harus ikhlas mati perlahan. 

Apa iya, mesti nunggu bangkrut dulu, baru bisa jadi spesialis yang lain? Apa iya, mesti nunggu di-PHK dulu, baru mencari skill hidup yang baru?
Pelajari skill baru. Milikilah banyak minat.

Lah, emang gimana caranya numbuhin minat?

Banyak minat bisa muncul karena pembiasaan pola pikir “mengapa” dan “bagaimana”. Mengapa bisa begini? Bagaimana bisa begitu? Selalu tanyakan sama diri sendiri. Manfaatkan rasa keingintahuan yang tinggi buat hal-hal yang baik. Bukan untuk ngepoin hal-hal yang ga penting dan ga kasih impact apa pun sama hidup kita.
Kalau kalian kerja di sektor retail, amati bahwa jumlah orang yang datang ke store sekarang mengalami penurunan. 

Contoh, Alfamart sekarang membuka Alfamart Online. Matahari dengan MatahariMallDotCom.
Kalau kalian kerja di sektor perbankan, amati bahwa jumlah nasabah yang datang ke kantor cabang semakin sedikit. Untuk itulah mobile banking dan internet banking diciptakan.
Intinya, selalu observasi. Tumbuhkan banyak minat. Be open minded. Miliki keingintahuan yang tinggi. Kembangkan menjadi skill baru.

2. Keep persistence
Plan B dibutuhkan jika rencana A gagal. Orang butuh berbagai alternatif untuk mengatasi kegagalan. Saat kita udah punya berbagai minat sejak dini, otomatis kita punya berbagai pilihan yang dapat dipertimbangkan. Peluang semakin terbuka lebar. 

Kita tetap bisa gunakan berbagai minat, meskipun udah punya pekerjaan tetap. Misalkan, saya suka blogging, berjualan, membuat website, menulis, bermain musik, dan olahraga. Dan saya bekerja pada sebuah start up. Pengetahuan saya tentang dunia blog, membuat tulisan yang bagus, dapat saya gunakan untuk promosi bisnis yang dijalankan. Pun ilmu yang dimiliki mengenai musik yang baik dan olahraga yang sehat dapat digunakan untuk membuat content yang menarik di website start up. Seperti itulah cara kerja minat dan pilihan di kehidupan sesungguhnya.

Kalau udah punya banyak minat, terus jadi labil, gimana dong? 
Kuncinya ada pada kegigihan.
Ga usah ragu buat ambil risiko dan berkomitmen sama banyak minat. Inget, tetap disiplin sama apa yang udah diputuskan. Jangan mau sama hasilnya doang. Puncak karir bakal diraih sama manusia yang gigih, tahan banting, dan ga pernah ngeluh!

3. Bangun networking
Berkawan dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Bangun hubungan baik dengan mereka. Give and share. 

Banyak banget keuntungan kalau kita punya banyak networking. Anti-sosial? Ke laut aje, sono. Inget, anti-sosial beda lho sama introvert! Misalnya, saya minat sama musik tapi ga expert di bidang itu. Project yang saya tangani sekarang butuh man power di bidang musik. 

Tinggal calling aja temen yang jago musik, kelar deh semua urusan. Superman aja ga bisa ngelakuin semuanya sendiri. Masa kita mau maruk nglakuin apa-apa seorang diri? Maka dari itu, terciptalah kolaborasi. Indah kan kalau kita saling berbagi? Berbagi pengalaman, berbagi project, dan juga berbagi rejeki! 

Saya nulis ini bukan karena preferensi terhadap bidang atau sektor tertentu. Saya juga tidak mengajak para pembaca untuk serta merta hijrah menjadi orang-orang multitalenta, dan melarang untuk menjadi orang spesialis. Tidak.

Saya hanya ingin kita semua bisa membaca situasi yang terjadi dan mengambil keputusan yang tepat. Bisa memposisikan diri di tempat yang layak dan waktu yang tepat. Plus komitmen, disiplin, dan kegigihan. Demi karir dan kehidupan yang bermanfaat bagi banyak orang.
Selamat berjuang mengarungi samudera kehidupan!

(Artikel ini ditulis pada tahun 2016, dan saya pikir masih relate dengan isu saat ini)


Sebuah Perjalanan Menerima Diri Sendiri


source: Unsplash - Kristijan Arsov


"Opi kenapa lo? Gak masuk lagi?"

Sebuah notifikasi chat muncul di layar handphone: dari teman kantorku, Sarah.

Sambil bangun dari tidur, kubuka jendela dari kamar kos mungil yang sudah menjadi tempat tinggalku 2 tahun belakangan.

Sudah 10 hari aku tidak masuk kantor. Ambil cuti 5 hari, sisanya ijin work from home. Beruntung manager di kantor memperbolehkanku untuk remote working. Ini kulakukan demi memulihkan kesehatanku karena beberapa hari yang lalu sempat drop.

Berawal dari suatu malam yang mendadak pusing, nafas berdegup kencang, kepala kliyengan, dan badan gemetar, aku dibawa oleh teman kosku ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat dari kos. Singkat cerita, kata dokter ini gejala asam lambung. Penyebabnya bisa jadi karena kecapekan, stres, pola makan tidak teratur, atau bisa jadi akibat kecemasan yang berlebihan.

Mendengar hal tersebut, aku semakin khawatir, "Apa lagi ini cemas berlebihan? Sepertinya aku tidak cemas," begitu pikirku dalam hati.

Dokter bilang, "Jangan terlalu capek atau overthinking. Kecemasan berlebihan bisa jadi tanda dari gangguan psikosomatik. Sebaiknya Mba Opi juga memperbanyak edukasi dan mendatangi psikolog atau psikiater."

Mendengar saran dokter, aku jadi teringat bahwa selama 6-7 bulan ini aku mengalami gangguan tidur. Baru bisa tidur di atas jam 3 dini hari dan harus berangkat ke kantor jam 9 pagi. Sering rasa malas datang menghantui. Untuk melakukan hal yang aku sukai pun, rasanya seperti demotivation. Aku juga sering menangis tanpa sebab. Bahkan aku pernah menangis tiba-tiba di kamar mandi kantor atau di kamar mandi mall, saat sedang jalan-jalan dengan teman-teman kantor.

source: Unsplash - Noah Buscher


Perilaku yang tidak biasa ini mulai membawaku untuk menggali lebih jauh lewat internet. Aku sering membaca artikel dari Satu Persen serta menonton channel Youtube mereka.

Ngomong-ngomong soal psikosomatik. Aku jadi penasaran sebenarnya gangguan psikosomatik itu apa, sih?

Ternyata gangguan psikosomatis adalah penyakit yang timbul akibat pikiran diri sendiri. Gangguan psikosomatis memang mempengaruhi fisik, namun ternyata penyebabnya adalah pikiran terutama rasa stres dan juga cemas.

Sampai pada akhirnya, aku membaca sebuah artikel yang membahas tentang gangguan depresi mayor.
Namun, daripada semakin khawatir dan jadi malah self proclaimed, aku memutuskan untuk melakukan konsultasi dengan psikolog.

source: Unsplash - Yuris Alhumaydy


Anyway, ini pertama kalinya aku datang ke psikolog. Apakah akan terasa awkward? Karena kita curhat dengan orang yang baru pertama kali bertemu. 

Sebelum sesi konsultasi dimulai, aku diminta untuk mengisi formulir yang kurang lebih sebagai berikut:

Apakah kamu sakit kepala?
Mengalami gangguan pencernaan?
Nafsu makan berkurang / bertambah?
Mengalami kenaikan berat badan / penurunan berat badan secara drastis?
Sering malas dalam melakukan sesuatu?
Kehilangan antusiasme terhadap hal yang disukai?
Sering menangis?
Merasa kesepian?
Mengalami gangguan tidur?
Susah fokus pada kegiatan atau pekerjaan?

Ada beberapa pertanyaan lagi yang aku lupa tepatnya seperti apa. Namun yang kuingat pertanyaan terakhir dari formulir adalah:
Apakah ada keinginan untuk mengakhiri hidup?

Kurang lebih ada 20 pertanyaan. 19 pertanyaan awal aku jawab dengan YA, dan pertanyaan terakhir aku jawab dengan TIDAK.

Ternyata datang ke psikolog tidak semengerikan yang kubayangkan. Mereka akan bertanya secara detail dan lebih jauh tentang diri, hubungan dengan keluarga, pasangan, rekan kerja, aktivitas sehari-hari, dan masih banyak lagi. Namun apabila ada hal yang dirasa tidak ingin dibagikan, psikolog akan mempersilakan untuk tidak perlu diceritakan.

Setelah analisis dari psikolog, beliau memberikan beberapa saran yang tepat untuk permasalahanku. Aku diminta untuk mencari stressor atau penyebab stres yang aku alami. Tentu saja ini bukan hal yang mudah, apalagi jika aku masih belom bisa memahami diriku sendiri. 


source: Unsplash - Giulia Bertelli


Mungkin kecemasan terjadi karena banyak hal mengganjal pikiran dan aku masih sulit untuk mengekspresikannya. Atau banyak beban yang terasa berat sehingga aku sendiri masih sulit untuk menerima diri. Selama ini aku bekerja terlalu keras untuk diri sendiri hingga lupa berterima kasih. Kadang jadi terlalu tegas hingga sulit memaafkan diri sendiri. Dari konsultasi bersama psikolog ini, aku banyak belajar tentang penerimaan diri, self care, dan self love. 

Beberapa solusi yang diberikan oleh psikolog untuk mengatasi rasa kecemasanku adalah:

1. Berlatih Mindful Eating Setiap Hari
Mindful eating adalah menikmati makanan dengan penuh penghayatan. Maksudnya bagaimana? Makan kok malah menghayati?

Maksudnya adalah kita fokus terhadap aktivitas makan saja. Di era yang serba cepat seperti saat ini, aktivitas makan kerap diselingi dengan aktivitas menonton series, atau makan sambil main handphone. Alhasil, kita kerap lupa menikmati proses makan yang sebenarnya sebagai wujud rasa syukur bisa makan secara teratur setiap hari.


source: Anthony Tran


Psikologku mengajari bagaimana caranya melakukan mindful eating. Anggaplah saja aku sedang makan soto sapi. Perhatikan saat soto sapi tersebut disajikan. Hirup aroma semerbak dari kuah dengan bumbu rempah dan juga kaldu sapi yang begitu menggoda. Belum lagi dengan taburan bawang goreng yang renyah dan menggugah selera. Tentu akan lebih segar rasanya jika diberi sedikit perasan jeruk nipis dan juga sambal untuk memperkaya cita rasa. Aduk racikan sambal, perasan jeruk nipis, dengan soto menjadi satu. Cermati bahwa endapan bumbu sotonya sudah bercampur menjadi satu dan siap untuk dinikmati.

Saat soto sapi masuk ke dalam mulut, rasakan hangatnya kuah bening dengan berbagai macam tekstur yang menempel di lidah: ada nasi pulen, sayur tauge, daging sapi berbentuk dadu, bihun yang empuk, dan masih banyak lagi komponen yang menciptakan rasa lezat di lidah. 
Kunyah dan lumat makanan secara perlahan-lahan. Secara berulang. Makan dengan pelan-pelan dengan penuh penghayatan ternyata juga baik untuk lambung dan menghindarkan dari naiknya asam lambung berlebihan. 

Makan dengan mindful eating ternyata juga membantu kita untuk fokus menghabiskan waktu dengan aktivitas makan. Ternyata makan juga salah satu bentuk me time, lho. Perhatian penuh kita terhadap semua detail pada makanan akan menjadikan kita lebih bersyukur, lebih puas, dan ternyata menjadi lebih kenyang (karena kita mengunyah secara pelan-pelan sampai makanan lumat).

2. Mencoba Expressive Writing
Agar kecemasan bisa berkurang dan beban pikiran tidak menumpuk. Psikologku memberi saran agar aku mencoba metode expressive writing. Secara sederhana, expressive writing ini sama seperti jika kita menulis diary atau bahasa kerennya saat ini adalah journaling. Namun, expressive writing ini harus dilakukan secara konsisten di jam yang sama setiap harinya. Metodenya boleh ditulis tangan, atau boleh juga diketik. Disesuaikan saja dengan karakter dan kepribadian diri masing-masing. Bagi sebagian orang, menulis di atas kertas justru bisa menuangkan emosi karena menulis dengan tekanan (akibatnya kertas bisa timbul). Sebagian lain justru lebih nyaman jika mengetik menggunakan keyboard, apalagi mendengar suara tuts keyboard yang terkesan 'berisik' namun di situlah serunya.


source: dokumentasi pribadi @sofynito


Apa saja yang dapat ditulis dalam metode expressive writing?
Kita dapat menuliskan hal-hal yang dialami sehari-hari. Entah itu hari yang baik, atau hari yang menyebalkan. Jangan ragu untuk menuangkan segala emosi dan keluh kesah di situ. Dalam Jurnal Inggris Advances in Psychiatric Treatment, menulis memiliki dampak positif untuk menyembuhkan stres atau rasa tertekan.


source: dokumentasi pribadi @sofynito


Setelah mencoba selama beberapa bulan, baik itu mindful eating atau expressive writing, aku merasa jauh lebih baik. Aku mulai bisa menerima diri sendiri dan memaafkan segala kesalahan atau pun penyesalan yang datang. Meskipun saat menjalani proses recovery ini, banyak tangis dan juga rasa sakit yang aku alami. Namun aku percaya bahwa niat baik untuk bisa 'sembuh' dan rasa semangat saat menjalani healing bisa jadi energi positif yang mengurangi rasa cemas yang berlebihan ini. 

Jadi, saat kamu merasa kesepian, sedih, perlu menangis, atau butuh tempat untuk bersandar, jangan pernah ragu untuk mengandalkan dirimu sendiri. Bahwa semua hal yang terjadi, adalah sebuah kepingan agar perjalanan kita terasa lengkap. Selalu percaya bahwa menerima diri dan mencintai diri sendiri, adalah hal berharga yang aku harap semua orang mampu merayakannya. Terus gaungkan kalimat ini dalam hati: I am loved. 



Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan diikutsertakan dalam lomba blog dari Satu Persen Official #SatuPersenBlogCompetition


Sumber:

Pengalaman pribadi 
Foto journal pribadi