Sofy Nito

. tentang fiksi dan cerita diri .

Kesalahan Terbesar Para Beginner

“Parah, desain gue ga dihargai. Enak aja minta gratis. Modal alat sama aplikasi gue mahal, kali!”
Obrolan tentang dihargai – ga dihargai ini muncul dari teman-teman saya sesama orang yang berkarya. Ada yang desainer, penulis, fotografer, dan anak-anak seni lainnya. Denger kalimat itu, saya agak heran, terus jadi mikir begini:
“Emangnya kita ini siapa, sih? Emang kita udah punya ‘nama’? Emang kalo search Googling, nama kita pasti bakal ada di first page?”
Saya justru berpikir sebaliknya dan agak merendah. Emang bener, harga kamera, laptop dengan spesifikasi tinggi, dan alat-alat gambar ga murah. Tapi, mana ada orang yang percaya dengan hasil karya kita, kalo kita ga kasih hasil tester dulu ke mereka?
Cari ide, berpikir, beli kopi buat jadi trigger pas bikin karya, terus ga dibayar. Masalah, ya? Kasih “gratisan” pada awalnya menurut saya adalah hal yang lumrah. Jika kita mengutamakan kualitas daripada kuantitas, percayalah jam terbang kita akan diasah di situ. Dan lama kelamaan akan mendapatkan “bayaran” yang sepadan yang sesuai dengan pengalaman. Ga bakalan sia-sia kok kalo capek bikin karya, bahkan sampe lembur. Anggap aja lagi investasi! Ga masuk akal dong, masih amatiran tapi minta harga tinggi.
Kalo saya sih ya, yang penting lakuin aja dengan sepenuh hati. Ga usah banyak mau dulu waktu lagi merintis. Yakin deh, suatu saat nanti akan ada orang yang menghargai hasil jerih payah kita dengan nilai yang tinggi karena kualitas karya yang dihasilkan.
Kesalahan terbesar beginner yang berkarya adalah mengharapkan fee yang tinggi. Padahal ya,  fee akan mengikuti sejalan dengan hasil yang kita berikan dan kualitas yang baik. Analogi ini sama halnya dengan para founder startup yang sudah mengharapkan mendapatkan investasi di awal untuk mendanai startupnya. Sekarang, misal beneran ada investor yang bakal ngasih duit segepok buat mendanai project kita nih, saya yakin 100% pasti kamu justru bakal bingung duit sebanyak itu bakal dialokasikan buat apa aja.
Ada sedikit cerita yang berhubungan dengan berkarya dari ebook-nya Pandji Pragiwaksono yang berjudul Indiepreneur.
Dimulai dari sebuah cerita…
Suatu hari, Ayah saya, Koes Pratomo Wongsoyudo yang saat itu bisnis penyediaan alat-alat berat konstruksi, berbincang dengan rekan kerja berkewarganegaraan Jerman di Hotel yang saat itu namanya masih Hotel Hilton.
Orang Jerman tersebut bertanya dalam bahasa Inggris, “Koes, orang Indonesia itu aneh ya..”
Ayah saya bertanya balik dengan tidak kalah bingungnya, “Aneh bagaimana?”
“Orang Indonesia itu kalau bikin ukiran bisa detil sekali, indah, presisi..”, ujarnya sambil menunjuk ke sebuah ukiran kayu Jepara yang menempel pada tembok hotel.
“Tapi..” lanjutnya lagi, “Orang Indonesia kalau bikin anak tangga, anak tangganya ga presisi banget. Kadang tinggi anak tangganya 20 cm, anak tangga selanjutnya 21 cm, anak tangga berikutnya 20,5 cm. Ga bisa presisi, ga pernah rapi. Kenapa bisa begitu Koes?”
Ayah saya menjawab, “Yang bikin ukiran itu berkarya, yang bikin anak tangga itu bekerja.”
(Dikutip dari e-book Indiepreneur, Pandji Pragiwaksono)
Menurut saya, beginner yang memikirkan fee tinggi ketika membuat karya diawal kariernya, tidak secara murni bisa disebut berkarya. Lebih tepatnya disebut sebagai bekerja. Karena, orang yang berkarya adalah seperti yang ada di cerita tadi. Membuat ukiran kayu Jepara tidak hanya membutuhkan skill saja, tetapi mencurahkan waktu dan tenaga, bahkan perasaan ke dalam karya yang dibuatnya. Itulah mengapa hasil dari ukiran kayunya berkualitas, dan harganya patut dikonversikan dengan nilai yang tinggi.
Berkarya juga tidak selalu berhubungan dengan seni. Karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan, bisa saja memiliki pola pikir “setiap hari masuk kantor saya harus berkarya”, dan tidak semata-mata mengutamakan gaji. Musisi yang pekerjaannya berhubungan dengan seni, bisa saja tidak berkarya. Musisi ini mendapat request untuk membuat lagu yang dibutuhkan orang lain di luar keinginannya. Meskipun musisi ini tidak menyukai lagunya, tetapi request-nya toh harus tetap dibuat. Musisi ini bukan berkarya, karena hanya memenuhi permintaan client. Musisi ini bekerja.
Jadi, tetapin dari awal dulu, kita “beneran” bikin karya, atau cuma bekerja aja? Daripada wasting time dan bikin lebih banyak “kesalahan” waktu berkarya, mending waktunya digunakan untuk asah skill!


Jadi Cengeng dan Berdaya


Minggu, 28 Januari 2018

Kelak, hari ini akan tercatat sebagai salah satu sejarah dalam 'milestone' saya.

Seperti biasa, malam ini saya duduk di depan laptop, sedang menulis. Sekian detik kemudian, ada sebuah kejadian yang berputar di pikiran saya: sesosok anak perempuan yang sedang membuatkan bubur untuk adiknya yang masih balita. Hidup di sebuah rumah kumuh di daerah terpencil entah dimana. Saya tak melihat adanya orang tua di rumah ini. Dimana mereka? Yang ada hanya seorang wanita tua, (mungkin neneknya), sedang duduk di kursi reyot, pandangannya sayu, tubuhnya renta.

Astaga! Saya tidak tahu, kejadian apa ini? Mengapa saya tiba-tiba bisa berpikir seperti ini?

Yang jelas tahu, saya tiba-tiba menangis hebat, masih duduk di depan laptop, kemudian bingung kenapa saya bisa menangis sampai sesenggukan begini.

Saya akui bukan orang yang mudah menangis.

Bahkan saya tidak kenal dengan sosok anak ini. Siapa dia? Mengapa saya harus menangis, padahal dia bukan 'siapa-siapanya' saya? Ya, logika ini masih mencerna.

Tapi tangisan tadi sepertinya bagian lain dari tubuh saya, mungkin kalbu yang sedang berusaha untuk berbicara.

Sambil memejamkan mata, saya lanjutkan 'penglihatan' tentang kejadian tadi. Saya nikmati tangisan ini. Si anak perempuan ini harusnya sudah sekolah, tapi dia tidak bisa. Katanya kepada neneknya, "Guruku sudah bilang katanya tidak apa-apa kalau berhenti sekolah dulu. Mereka iba sama nenek dan adik." Mendengar si anak bilang begitu, yang ada di pikiran saya adalah, "Kamu tidak punya pilihan lain, dik. Gurumu hanya berusaha menghiburmu."

Semakin lama saya melihat kejadian ini, tangisan ini semakin deras hingga membentuk anak-anak sungai di kedua pipi.

**

Kerah baju saya sudah basah, menjadikannya muara dari kumpulan tetes air mata. Anak perempuan itu mengingatkan akan masa kecil saya. Tumbuh dalam lingkungan sederhana bahkan cenderung kekurangan bukanlah hal yang mudah. Jika anak perempuan lain yang sebaya asyik bermain boneka, saya malah mengumpulkan pundi-pundi receh dengan berjualan hal remeh temeh: es teh, es buah, pensil, notes, gelang hasil karya sendiri, permen, sampai petasan.

Jika musim hujan tiba, saya mendadak jadi orang kaya karena punya kolam renang raksasa. Gak cuma kolam renang aja, rumah pun disulap jadi tambak belut sampai ikan nila. Saya emang kebanyakan 'ngayal'. Sudah jelas ini namanya kebanjiran, bego.

Kamu tahu gak, saya bahkan punya sirkuit di dalam rumah. Kamu percaya? Rumah saya jadi tempat ajang balapan antara rayap yang menggerogoti setiap serpihan kayu penopang rumah dengan bapak ibu yang bekerja agar rumah ini tetap berdiri seutuhnya, tanpa seekor rayap pun yang bercokol di dalamnya. Sejak saat itu, jika ada teman yang menyodorkan lembar "BIODATA-ku" di selembar kertas binder merek Adinata dengan isian MaFa (Makanan Favorit), BiFa (Binatang Favorit), hingga BiCi (Binatang Dibenci), saya akan memasukkan "rayap" sebagai binatang yang paling dibenci di urutan pertama. Saya bersumpah dan mengikrarkan diri sepenuh hati untuk membenci binatang ini. Bukan nyamuk, cicak, atau laba-laba, layaknya binatang yang dibenci oleh teman-teman lain.

Beranjak remaja, saya semakin sadar bahwa dunia ini penuh dengan dikotomi. Terlalu kontras untuk anak seusia saya yang baru saja mendapatkan menstruasinya yang pertama. (Oh, ini toh namanya jadi dewasa?)

Anak pertama berjalan menggunakan sepatu merek Gash! lengkap dengan tas Billadong dan dengan anggunnya turun dari mobil Suzuki Katana.
Anak kedua berjalan menggunakan sepatu merek lokal lengkap dengan tas tipis yang resletingnya seret, yang kalau dibuka harus dengan cara menggosok-gosokkan lilin ke resletingnya, dan dengan pedenya turun dari angkutan umum jurusan Johar-Simpang Lima.
Dan kamu gak perlu jadi peramal untuk bisa menebak saya dari golongan yang mana hahaha.

Beranjak dewasa, saya sanggup kuliah karena sebuah keajaiban. Entah gimana awalnya, intinya saya sangat bersyukur bisa kuliah dengan gratis karena beasiswa sampai tuntas dan dapat gelar sarjana. Sejak saat itu, saya percaya bahwa "Hand of God" ternyata gak hanya milik Maradona saat Argentina melawan Inggris tahun 1986 di ajang Piala Dunia.

Bapak Ibu saya selalu memberi contoh dan mencoba saya dan adik-adik untuk selalu menerapkan sebuah prinsip: memilih menjadi sederhana saat kamu sudah jadi seseorang yang berdaya. Entah itu berdaya dengan menjadi kaya, atau titel lain yang mungkin bisa membuat kita bangga.

Contohnya, setiap Jumat, keluarga kami selalu memiliki kegiatan seru. Saya dan Ibu belanja sayur dan kebutuhan untuk memasak. Saat masakannya sudah jadi, Bapak yang membungkusnya, dan adik-adik saya membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kalau mau, kami mampu untuk membeli beberapa loyang pizza, pasta, dan lasagna untuk dimakan bersama. Namun kami memilih untuk makan dengan lauk pauk yang sederhana tapi tetap bergizi cukup, dan membagikan makanan untuk orang di luar sana yang mungkin berhari-hari belum makan.
Ya kalau dipikir, lima loyang pizza sama harganya dengan puluhan paket nasi ayam, telur, dan bakmie. Tapi manfaatnya sudah pasti jauh berbeda.

Kalau saya mau, saya mampu beli banyak buku sekaligus untuk dijadikan koleksi. Tapi saya lebih memilih untuk membeli buku yang sangat saya butuhkan saja, dan membiarkan sisa uangnya untuk membeli buku anak-anak dan diberikan kepada anak lain yang di rumahnya tidak ada buku cerita. (Kamu tahu, sangat sulit untuk memilih beberapa buku yang sangat saya inginkan, karena semua buku itu selalu meminta saya untuk jadi pemiliknya.)

Kalau saya mau, saya mampu beli sepatu dengan harga tujuh juta agar terlihat stylish dan OOTD banget. Tapi saya lebih memilih untuk membeli sepatu dengan harga yang jauh lebih murah di bawahnya agar sisa uangnya bisa buat beli sepatu anak-anak lain di daerah pedalaman yang mungkin kalo berangkat sekolah cuma pakai sandal jepit.

Kalau saya mau, saya mampu beli gadget dengan harga puluhan juta. Tapi saya lebih memilih untuk membeli sesuai dengan kebutuhan agar sisa uangnya bisa digunakan untuk orang lain. Toh ini masih bisa membuat saya tetap berdaya tanpa harus memikirkan tren atau gaya.

Kalau saya mau, suatu saat nanti saya akan mampu beli mobil merek ternama keluaran Eropa. Tapi saya lebih memilih untuk membeli Toyota saja agar sisa uangnya bisa digunakan untuk membeli Toyota-Toyota lain untuk diberikan kepada yayasan pendidikan, panti sosial, atau masjid.

Ternyata memilih untuk menjadi sederhana sulit sekali dan tidak semudah yang dibayangkan. Tapi, kalau kita mampu memilih untuk jadi sederhana, percayalah bahwa kamu bisa jadi salah satu orang yang paling bahagia se-dunia!

Kalau kita sadari, anak perempuan yang dapat membuat saya menangis sesenggukan tadi cuma satu dari sekian juta anak-anak miskin lain yang tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak. Bukan salah Bunda mengandung, bukan keputusan Tuhan yang tidak adil, tidak ada yang dapat memilih kita akan dilahirkan dari keluarga miskin atau kaya, sebagai lelaki atau perempuan, lahir dari agama apa, tinggal di daerah mana, dan masih banyak dikotomi lain, atau "standar" lain yang sepertinya terlihat sebagai pilihan walaupun sejatinya kita tidak dapat memilih.

Saya memutuskan untuk berhenti menangis karena teringat ucapan penulis sekaligus mentor saya, AS Laksana, "Jangan cengeng."

**

Memang sulit sekali untuk seseorang dapat keluar dari kemiskinan kecuali dengan pendidikan.

Lalu bagaimana jika yang miskin belum bisa dapat pendidikan yang layak? Apakah mereka masih bisa menjadi seseorang yang berdaya?

Miskin, kaya. Tua, muda. Lahir di desa, lahir di kota. Semua dikotomi ini seakan membuat mata kita tertutup bahwa kita semua setara. Apa buktinya?
Kita punya 24 jam yang sama.
Tinggal pilih saja mau jadi apa?:

a. Orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri
b. Orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan sanak famili
c. Orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri, sanak famili, dan orang lain yang membutuhkan (seperti anak tadi dan jutaan orang lain)

Kamu mau jadi yang mana?

Saya harap kamu mau dan berusaha untuk jadi golongan terakhir, yang memilih untuk jadi sederhana dan berdaya.